Menulis itu Mudah

Hampir semua tulisan yang baik dimulai

dengan usaha yang amat melelahkan,

tapi Anda harus memulainya.

Mulailah menulis sesuatu

–Anna Lamatt—

Menulis adalah menuangkan gagasan dan pemikiran dalam rangkaian kalimat yang dapat dibaca oleh setiap orang. Menulis bagi sebagian orang dianggap sulit, membingungkan dan seringkali mengesalkan karena menulis pada permulaan memang bukan perkara mudah tapi bagian sebagian yang lain lagi, menulis itu gampang, bahkan ada yang merasa menulis itu lebih gampang daripada berbicara. Jadi, pertanyaan dalam tulisan ini, bagaimana agar menulis itu menjadi mudah sehingga mengasyikan?.

Ide dan Kepercayaan diri

Kata Nasoetion (2000), menulis muncul dan menjadi kebutuhan bila kita memiliki ide yang harus dikeluarkan, mengambil kertas dengan pensil atau menekan tust keybord menjadi kebutuhan itu terwujud. Yang jadi persoalan, setelah mendapat ide itu, tulisan yang kita buat menurut anggapan kita sendiri tidak layak untuk dibaca. Ini persoalan yang mendasar mengapa menulis seringkali tidak membudaya dikalangan masyarakat, lebih menggenaskan tidak sedikit mahasiswa yang mengangap menulis itu sulit.

Disini faktor kepercayaan diri untuk menulis menjadi penting, sama pentingnya dengan menemukan ide. Jalaludin Rahmat yang dikutip oleh Al-Ghifari (2002) bercerita pernah ada penulis terkenal sebelumnya pernah mengalami tulisannya selalu ditolak oleh redaksi, angka penolakannya bukan main-main karena hampir mencapai ribuan, namun penulis itu (sayang tidak disebut namanya) tidak pernah berputus asa, sehingga akhirnya dimuat dan tulisan yang sebelumnya tinggal diperbaiki saja, maka penulis itupun terkenal sebagai penulis produktif.

Jadi menulis selain persoalan ide, juga faktor kepercayaan diri menjadi faktor penting. Untuk memunculkan ide sendiri, Kamaruddin — kolumnis dan penulis beberapa buku — menceritakan, semua yang ada di lingkungan sekitar kita bisa menjadi sumber inspirasi untuk menulis, tinggal bagaimana kita mencari hal yang menarik untuk ditulis. Jadi faktor ide yang demikian sentral dalam aktifitas menulis bisa diperoleh dengan beragam cara asal kita maksimal menggunakan panca indera yang kita miliki.

Diharapkan dengan mengacu (salah satunya) tidak pernah kehabisan misteri yang ingin dikuak sebagai ide untuk menulis, yakni “katakanlah kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” (Surah Al Kahfi 18:109) Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta] ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah Luqman 31:27) .

Revisi dan Data

Menulis agar mudah adalah memahami bagaimana sebuah tulisan yang dapat dibaca sampai bisa dinikmati bukan merupakan proses yang langsung jadi. Melakukan perbaikan dengan menambah atau mengurangi kata per kata atau kalimat merupakan hal yang mutlak, makanya revisi ini mencapai prosentasi yang paling tinggi karena hampir 45 % jauh lebih tinggi dari proses menulis sendiri yang hanya 10 % (Aldesten, 1985).

Makanya kemauan yang kuat untuk menulis sebenarnya lebih pada proses revisi, memang pada awalnya tidak menyenangkan dan cenderung menyebalkan karena proses ini mencoba melihat kelemahan tulisan kita padahal kita sudah susah payah menulisnya. Tapi dengan kemauan yang kuat dengan modal keinginan untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat, proses revisi akan menjadi proses yang menyenangkan karena tulisan akan lebih baik..

Yang tak kalah penting, apa yang selalu dikatakan pembimbing saya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR.Amru Hydari Nazif, M.sc. Beliau selalu menekankan menulis itu harus dengan data-data yang memungkinkan kita membuat tulisan yang berbobot, ternyata cocok dengan kata Sherlock Holmes ”data-data,data…,how can I build a house without bricks?”. Yach, tanpa data-data terutama dalam penelitian, tulisan yang dibuat tidak lebih hanya tulisan yang tertata tanpa makna.

Dan meminjam istilah Pareto, penulis pun mengalami sindrom 80:20. Maksudnya apa yang ditulis itu hanya menunjukan kemampuan 20 % menyisakan 80 % yang tidak bisa dinikmati pembaca tulisannya. Ini disebabkan ada hal-hal yang tidak ditulis karena demi efisien pembaca, karena seorang penulis pun tidak boleh egois, jangan sampai menjejalkan banyak hal tapi mengaburkan inti permasalahan yang kita ingin sampaikan. The most important thing I learned in this writing was not be a “selfish”

Kalau pada awalnya kita sudah merasakan bagaimana susahnya menulis namun dengan kebiasaan maka menulis bisa menjadi hal yang mengasyikan karena memberi kesempatan untuk memberi ide kepada masyarakat luas apalagi selama menulis kita sudah menyukai alunan Al – Quran yang telah banyak dijual dalam CD atau sambil mendengarkan musik klasik seperti sonata untuk 2 piano dalam o minor karya Mozart karya J.S. Bach dengan orkestra dalam C mayor tak ketinggalan karya Beethoven dengan Simponi no 1 yang diputar selama kita merangkai kata menjadi kalimat yang menurut pakar mampu mendongkrak intelegensi mahasiswa, namun ingat nasehat Andi Hakim Nasoetion ”Lupakan memburu ketenaran dan carilah kebenaran maka bertemulah keduanya”.

Depok, 30 September 2004

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: