Desember 20, 2008 - Leave a Response

Menulis itu Mudah

Hampir semua tulisan yang baik dimulai

dengan usaha yang amat melelahkan,

tapi Anda harus memulainya.

Mulailah menulis sesuatu

–Anna Lamatt—

Menulis adalah menuangkan gagasan dan pemikiran dalam rangkaian kalimat yang dapat dibaca oleh setiap orang. Menulis bagi sebagian orang dianggap sulit, membingungkan dan seringkali mengesalkan karena menulis pada permulaan memang bukan perkara mudah tapi bagian sebagian yang lain lagi, menulis itu gampang, bahkan ada yang merasa menulis itu lebih gampang daripada berbicara. Jadi, pertanyaan dalam tulisan ini, bagaimana agar menulis itu menjadi mudah sehingga mengasyikan?.

Ide dan Kepercayaan diri

Kata Nasoetion (2000), menulis muncul dan menjadi kebutuhan bila kita memiliki ide yang harus dikeluarkan, mengambil kertas dengan pensil atau menekan tust keybord menjadi kebutuhan itu terwujud. Yang jadi persoalan, setelah mendapat ide itu, tulisan yang kita buat menurut anggapan kita sendiri tidak layak untuk dibaca. Ini persoalan yang mendasar mengapa menulis seringkali tidak membudaya dikalangan masyarakat, lebih menggenaskan tidak sedikit mahasiswa yang mengangap menulis itu sulit.

Disini faktor kepercayaan diri untuk menulis menjadi penting, sama pentingnya dengan menemukan ide. Jalaludin Rahmat yang dikutip oleh Al-Ghifari (2002) bercerita pernah ada penulis terkenal sebelumnya pernah mengalami tulisannya selalu ditolak oleh redaksi, angka penolakannya bukan main-main karena hampir mencapai ribuan, namun penulis itu (sayang tidak disebut namanya) tidak pernah berputus asa, sehingga akhirnya dimuat dan tulisan yang sebelumnya tinggal diperbaiki saja, maka penulis itupun terkenal sebagai penulis produktif.

Jadi menulis selain persoalan ide, juga faktor kepercayaan diri menjadi faktor penting. Untuk memunculkan ide sendiri, Kamaruddin — kolumnis dan penulis beberapa buku — menceritakan, semua yang ada di lingkungan sekitar kita bisa menjadi sumber inspirasi untuk menulis, tinggal bagaimana kita mencari hal yang menarik untuk ditulis. Jadi faktor ide yang demikian sentral dalam aktifitas menulis bisa diperoleh dengan beragam cara asal kita maksimal menggunakan panca indera yang kita miliki.

Diharapkan dengan mengacu (salah satunya) tidak pernah kehabisan misteri yang ingin dikuak sebagai ide untuk menulis, yakni “katakanlah kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” (Surah Al Kahfi 18:109) Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta] ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah Luqman 31:27) .

Revisi dan Data

Menulis agar mudah adalah memahami bagaimana sebuah tulisan yang dapat dibaca sampai bisa dinikmati bukan merupakan proses yang langsung jadi. Melakukan perbaikan dengan menambah atau mengurangi kata per kata atau kalimat merupakan hal yang mutlak, makanya revisi ini mencapai prosentasi yang paling tinggi karena hampir 45 % jauh lebih tinggi dari proses menulis sendiri yang hanya 10 % (Aldesten, 1985).

Makanya kemauan yang kuat untuk menulis sebenarnya lebih pada proses revisi, memang pada awalnya tidak menyenangkan dan cenderung menyebalkan karena proses ini mencoba melihat kelemahan tulisan kita padahal kita sudah susah payah menulisnya. Tapi dengan kemauan yang kuat dengan modal keinginan untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat, proses revisi akan menjadi proses yang menyenangkan karena tulisan akan lebih baik..

Yang tak kalah penting, apa yang selalu dikatakan pembimbing saya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR.Amru Hydari Nazif, M.sc. Beliau selalu menekankan menulis itu harus dengan data-data yang memungkinkan kita membuat tulisan yang berbobot, ternyata cocok dengan kata Sherlock Holmes ”data-data,data…,how can I build a house without bricks?”. Yach, tanpa data-data terutama dalam penelitian, tulisan yang dibuat tidak lebih hanya tulisan yang tertata tanpa makna.

Dan meminjam istilah Pareto, penulis pun mengalami sindrom 80:20. Maksudnya apa yang ditulis itu hanya menunjukan kemampuan 20 % menyisakan 80 % yang tidak bisa dinikmati pembaca tulisannya. Ini disebabkan ada hal-hal yang tidak ditulis karena demi efisien pembaca, karena seorang penulis pun tidak boleh egois, jangan sampai menjejalkan banyak hal tapi mengaburkan inti permasalahan yang kita ingin sampaikan. The most important thing I learned in this writing was not be a “selfish”

Kalau pada awalnya kita sudah merasakan bagaimana susahnya menulis namun dengan kebiasaan maka menulis bisa menjadi hal yang mengasyikan karena memberi kesempatan untuk memberi ide kepada masyarakat luas apalagi selama menulis kita sudah menyukai alunan Al – Quran yang telah banyak dijual dalam CD atau sambil mendengarkan musik klasik seperti sonata untuk 2 piano dalam o minor karya Mozart karya J.S. Bach dengan orkestra dalam C mayor tak ketinggalan karya Beethoven dengan Simponi no 1 yang diputar selama kita merangkai kata menjadi kalimat yang menurut pakar mampu mendongkrak intelegensi mahasiswa, namun ingat nasehat Andi Hakim Nasoetion ”Lupakan memburu ketenaran dan carilah kebenaran maka bertemulah keduanya”.

Depok, 30 September 2004

Menyusun Usulan Penelitian Untuk Mendapatkan Sponsor

Januari 16, 2008 - 3 Tanggapan

Perlu dibedakan terlebih dahulu apa itu desain penelitian dan usulan (selanjutnya akan disebut dengan usulan penelitian, disesuikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar), penelitian. Agar nantinya ke depan tidak dibingungkan dengan dua sebutan itu. Dengan sebutan yang berbeda memang akhirnya berakibat pada format dan tujuan yang berbeda pula. yang nantinya jatuh pilihan tergantung kepada kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh peneliti.   Desain dibuat untuk menjadi panduan dalam melakukan penelitian yang tidak hanya berguna bagi peneliti itu sendiri tapi juga pembimbing. Hanya berisikan apa yang berkaitan langsung dengan penelitian sedangkan usulan penelitian hampir mirip dengan  desain penelitian namun ditujukan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan penelitian. Jadi organisasi penelitian yang berisi susunan yang melakukan penelitian, time line, dan kebutuhan biaya yang diperlukan. Usulan penelitian dilihat dari susunannya setiap lembaga berbeda. Ini memang tidak salah dan sebenarnya tidak membingungkan karena biasanya disediakan panduan tertulis untuk menyusun usulan yang akan diajukan. 

Pentingnya Usulan Penelitian

Perbedaan antara desain dan usulan penelitian menjadi saran ini menurut saya sangat relevan yakni untuk level SMU ada baiknya lebih ditekankan pada desain penelitian karena penelitian yang nantinya akan dilakukan merupakan penelitian yang berskala kecil. Penelitian dengan skala kecil tidak akan menuntut kebutuhan yang besar. Misalnya, pengumpulan data bisa dilakukan di sekitar lingkungan siswa tersebut. Ini tidak akan menjadi kelemahan karena sedari awal sudah memberitahukan kesempatan pembaca untuk mengetahui alasan objektif dan banyak finalis dan pemenang lomba penelitian seperti di LIPI dan Departemen Pendidikan Nasional memuat alasan pemilihan lokasi penelitian yang dekat dengan lokasi tempat tinggal peneliti.  Namun bila memang membutuhkan biaya maka harus membuat usulan penelitian yang akan disampaikan ke sponsor yang potensial. Nah apa itu sponsor?, Sponsor yang adalah pihak yang akan menanggung sebagian atau seluruh pengeluaran selama melakukan penelitian. Berarti lebih bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaan untuk menjawab pertanyaan. Sedangkan untuk mendapatkan dana untuk penelitian, maka membuat usulan penelitian menjadi syarat. Karena untuk  mendapatkan dana, maka riwayat peneliti, perkiraan dana yang akan dibutuhkan. Satu hal yang penting biasanya sponsor akan mempertimbangkan manfaat dengan kemampuan peneliti untuk melakukan penelitian. Usulan penelitian juga dapat digunakan untuk mendapatkan pembimbing. Pembimbing biasanya akan mengacu pada masalah penelitian yang diajukan. Kalau masalah penelitian itu diperkirakan diselesaikan melewati lamanya belajar atau melewati batas waktu untuk ikut lomba, biasanya masalah akan dipersempit lagi. Jadi usulan penelitian berperan penting untuk menentukan sejauh mana penelitian dapat dilakukanl. Untuk lebih baik memahami kesalahan usulan yang kita buat sebaiknya melibatkan secara maksimal peran pembimbing. Maksudnya tentu saja pembimbing bukan mendikte, namun apa yang kita lakukan harus mendapat tanggapan dan masukan dari pembimbing. 

Tahapan Penulisan

Usulan penelitian berbeda dengan desain riset karena usulan penelitian bertujuan untuk mencari dana sedangkan riset desain lebih berkaitan dengan teknik pelaksanaan. Jadi sebenarnya wajar kalau usulan penelitian memuat.a.       JudulDibuat singkat, jelas, menunjukan dengan tepat masalah yang akan diteliti dan tidak memberi peluang penafsiran yang bermacam-macamb.      latar belakangBerisi (1) permasalahan yang menguraikan tentang masalah yang menarik minat dan mendesak untuk diteliti, (2) penelitian harus memiliki faedah baik praksis yang bisa diterapkan di masyarakat atau untuk kemajuan ilmu pengetahuan., (3) keaslian penelitian berarti belum pernah diteliti atau harus tegas  bedanya dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan.c.       Tujuan penelitianKeinginan yang ingin dicapai dalam penelitian. Dalam penelitian tujuan penelitian harus sesuai dengan masalah dan kesimpulan.d.      tinjauan pustakaBerisi uraian sistematis tentang berbagai keterangan yang dikumpulkan dari pustaka yang ada hubungannya dan menunjang penelitian. Disini terkaan penelitian terhadap permasalahan penelitian sudah mulai bisa dijawab dengan kajian pustaka yang akan membantu dalam mengarahkan untuk mendapatkan data.e.       landasan teori (bila ada)Dijabarkan dan disusun berdasarkan tinjauan pustaka yang akan menjadi bingkai yang mendasari pemecahan masalah serta untuk merumuskan teori. Memang dalam penelitian ekploriatif yang tidak ada data-data yang memandu maka landasan teori tidak diperlukan.f.        hipotesis (bila ada)Ada tidaknya hipotesis ditentukan oleh sifat penelitian seperti penelitian eksploriatif tentu tidak perlu hipotesis karena landasan teori sebagai dasar untuk menyusun pun tidak ada. hipotesis merupakan jawaban sementara yang akan digunakan untuk mengarahkan untuk mendapatkan data sehingga peran hipotesis sangat penting.hipotesis menurut Kerlinger adalah pernyataan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. g.       cara penelitianmemuat tentang, (1) bahan atau materi penelitian berkaitan dengan jenis data yang akan dicari apakah data sekunder atau data primer yang berarti memuat juga tekniknya.(2) alat, maksudnya instrumen untuk mendapatkan data apakah kuesioner, wawancara, Focus Group Discusion untuk mendapatkan data primer atau kajian pustaka untuk data sekunder (3) jalannya penelitian. Dikemukakan cara melakukan penelitian bagaimana penerapan untuk mencari data. Misal, dalam menyebarkan kuesioner dalam menentukan responden menggunakan daftar sampling dari data pemerintah seperti kepala desa atau bagaimana responden mengisi kuesioner apakah diisi oleh responden sendiri atau peneliti mengisi berdasar jawaban responden.(4) variabel serta data yang dikumpulkan, ini dijabarkan melalui definisi operasional, (5) mengenai analisis hasil, berisi uraian tentang cara-cara analisis, yaitu bagaimana memanfaatkan data yang terkumpul untuk dipergunakan dalam memecahkan masalah penelitian.h.       jadwal, dan dijelaskan tahap penelitian secara rinci dan jangka waktunya. Umumnya menggunakan tabel sehingga memudahkan untuk memonitor perkembangannya. Ini sangat penting karena kerja yang efektif dan sesuai sasaran mulai bisa dilihat. Jadwal penelitian biasanya memberi kesempatan sponsor untuk memberi deadline. Jadi masuk dalam level kesepakatan yang nanti dibuat bersama.i.         daftar pustaka. Daftar pustaka merupakan daftar yang berisi sumber data dan informasi yang disusun dengan konsisten.  

Mengajukan Usulan ke Sponsor

Berbicara mengenai sponsor dalam level yang paling sempit, maka akan melibatkan dua pihak, yang satu pihak peneliti dan pihak sponsor/penyandang dana. Sehingga dari sinilah akan dihadapkan pada dua aspek kepentingan: Pertama, rencana sebagai dokumen pegangan yang terperinci dan lingkup bagi pelaksanaan untuk menjamin tercapainya tujuan/sasaran proyek secara efektif dan efisien. Disini dibutuhkan usulan penelitian yang bisa menggambarkan secara terperinci dengan ketepatan yang sebaik mungkin tentang apa yang dapat dicapai, bagaimana cara mencapainya dan memonitor perkembangan proses-proses serta segala kebutuhan-kebutuhan sumber daya secara terperinci baik mengenai jumlah dan cara pengalokasikan. Disini usulan penelitian untuk mendapat penyandang dana sangat ditentukan dengan bagaimana kita bisa menyajikan secara lengkap dan menyakinkan bagaimana penelitian akan dilaksanakan. Kedua, rencana sebagai dokumen informasi untuk menyakinkan sponsor agar bersedia menerima usulan proyek dan memberi dukungan sumber daya seperti dana konumsi selama kegiatan atau pun fasilitas peralatan.tentu saja sponsor bila ingin memberi dana lebih mengacu kepada kepentingan sponsor khususnya pada tujuan dan manfaat apa yang dapat mereka raih serta bagaimana hubungannya dengan permasalahan-permasalahan lainnya yang berkaitan dalam konteks yang lebih besar.misalnya, penelitian tentang keterlibatan remaja dengan perjudian dapat disponsori oleh Departemen Agama setelah melihat ada keterkaitan dengan penelitian tentang maraknya perjudian di Indonesia. Jadi bisa menjadi data tambahan (Kahar, 1985:05-02). Ada beberapa hal penting yang harus dicermati dalam pembuatan usulan yang akan diajukan ke sponsor sebagai penyandang dana.yakni pertama, kelengkapan berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi dari format baku yang dipakai sampai dengan tidak ada yang tertinggal. Kedua, kualitas: ini berkaitan dengan substansi dan data yang benar dan relevan. Benar berkaitan dengan data yang sesuai dengan fakta dan tidak ada kebohongan sedangkan relevan berkaitan dengan kesesuaian dengan apa yang dimaksud dengan lingkup penelitian. Selain itu penting sekali, apa data itu dijalin dengan dengan baik sehingga menunjukan urutan logis. Keempat, Feasibilitas: ini berkaitan dengan alokasi waktu apakah akan bisa dijalankan dengan baik sehingga akan menentukan keberhasilan penelitian dengan melihat jadwal dan kemampuan yang akan melakukan penelitian. Kelima, Kegunaan: penelitian yang akan dilakukan harus jelas manfaatnya terutama bagi yang akan memberikan dana penelitian. Disini seringkali masalah manfaat yang akan menentukan keberhasilan mendapat sponsor (Kahar, 1985: 05-04).  

Bila kita mengalami penolakan usulan yang diajukan,  ada baiknya lihat evaluasi berikut ini sehingga bisa dicari jalan keluarnya. Pertama, apakah usulan tidak bisa menggambarkan manfaat dari hasil penelitian dan tidak terlalu penting. Berarti sumber masalahnya ada di kekurangan kita memperluas kajian tentang apa yang akan diteliti. Kekuatan untuk mencari kegunaan penelitian ditentukan dengan kejelian melihat peluang dari hasil penelitian atau diluar alasan teknis apakah kita sudah mengajukan kepada pihak yang tepat. Kedua, Apakah tujuan proyek penelitian tidak dinyatakan dengan jelas sehingga tidak dapat dinilai tentang berguna atau tidaknya penelitian untuk dijalankan?. Ini berkaitan dengan maksud dari penelitian yang berarti berkaitan erat dengan manfaat yang diharapkan. Memeriksa kembali merupakan langkah untuk mempertajam tujuan penelitian.  Melihat manfaat dan tujuan penelitian lalu dikaitkan dengan besar dana yang diperlukan juga bisa menjadi alasan usulan gagal mencapai tujuannya. Keterangan terperinci dan masuk akal dalam persoalan kebutuhan dana menjadi hal yang mutlak. Memang persoalan dana akhirnya ditentukan dengan jangka waktu, tenaga yang dibutuhkan dan jenis data yang dibutuhkan. Jenis data yang dimaksud misal, adalah lebih kecil bila menggunakan data sekunder daripada menggunakan data primer karena persoalan tenaga. Ini salah satu contoh yang perlu dipertimbangkan. Ketiga, melihat kembali susunan usulan proyek penelitian untuk melihat gambaran logika sejalan antara alasan perlunya penelitian dan cara mencapai tujuan penelitian. Ini untuk memudahkan pemahaman atas jalannya penelitian sehingga dapat diketahui bagaimana pelaksanan penelitian itu di lapangan. Hal ini perlu dilakukan agar bisa memprediksi tingkat keberhasilan penelitian karena penting melihat dana yang dikeluarkan dapat memberi umpan balik yang diharapkan dan ini ditentukan pula akan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam pengajuan usulan telah dilaksanakan. Persyaratan ini jelas harus diikuti karena akan memudahkan melihat usulan yang sesuai dengan kebutuhan. Persyaratan itu misalnya, dalam hal jumlah halaman usulan dan alamat jelas pengirim usulan. Jangan remehkan persyaratan administrasi karena ada kemungkinan usulan ditolak terutama untuk proyek penelitian dengan persaingan tinggi seperti di lembaga penelitian.Terakhir tak kalah penting karena walau usulan dibuat tanpa kesalahan tetap ditolak bila diajukan ke pihak yang kurang tepat. Penting sekali untuk mengetahui kiprah pihak yang akan menerima usulan penelitian. Bisa bertanya atau mencari informasi dari media merupakan langkah tepat agar kesalahan ini tidak menghambat kegiatan penelitian. Dan memang peneliti tidak hanya dituntut teliti dalam mencari dan mengumpulkan data tapi juga dalam mencari pihak yang akan menjadi penyandang dana.

 Sponsor penelitian: siapa saja mereka?

Kegiatan penelitian selain membutuhkan tenaga dan pikiran namun juga biaya seperti biaya tranport dari tempat kita ke lokasi penelitian sehingga untuk menghemat biaya seringkali dipilih lokasi yang dekat dengan tempat tinggal. Atau biaya untuk membeli bahan percobaan dan menyewa laboratorium. Ini semua sangat dibutuhkan untuk mendapatkan data yang akan menjawab permasalahan penelitian sehingga mencari sumber dana menjadi penting untuk dilakukan agar kita bisa fokus untuk menyelesaikan penelitian. Membiayai penelitian dengan dana yang kita miliki sendiri. Baik dari hasil bekerja atau menabung yang merupakan pemberian orang lain tanpa ada maksud orang tersebut untuk digunakan penelitian. Keuntungan dibiayai sendiri tidak perlu memikirkan pengawasan pihak lain sehingga kita bisa bebas memilih dan menentukan cara kita meneliti. Selain itu jika menang lomba dan mendapat hadiah, hanya perlu membayar pajak hadiah. Toh tidak ada yang meminta paksa kepada kita. Saya paling senang cara ini karena kalau gagal, tidak perlu merasa mengecewakan orang lain dan pengalaman berpikir mandiri benar-benar kita rasakan. Ternyata dapat menggunakan dana kita dengan cara lebih berguna.  Memang kekurangannya harus menggunakan dana sendiri padahal bisa maksimal bila ada membiayai. Disini dibeberkan pihak yang bisa dicoba bantuan dalam masalah dana. 

1)      Orang tua

Bagi remaja seperti kita yang umumnya belum mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai penelitian sedangkan kita masih dalam tanggungan orang tua atau saudara maka meminta bantuan untuk memberikan dana untuk melakukan penelitian sangat mungkin terjadi. Sebab pada umumnya orang tua secara sadar memberikan uang untuk memenuhi keperluan sehari-hari dari uang saku sampai untuk membeli kebutuhan sekolah. Peran orangtua dalam mengoptimalkan aktualisasi apa yang diminati sangat besar, mulai dari jeli memperhatikan anak dalam segala kegiatannya hingga memberi dorongan agar anak percaya diri untuk mengaktualisasikan apa yang dimilikinya itu (Kompas, 16/3/2003). Bagaimana mendekati orang tua untuk meminta perhatian dan dukungan menjadi penting ketika dukungan dari berbagai pihak lain seperti sekolah tidak sesuai harapan. ini  memang tidak tertutup kemungkinan karena orientasi sekolah yang mementingkan kurikulum yang cenderung kaku. banyak keluhan yang berkaitan dengan sekolah, mulai dari persoalan fasilitas perpustakaan, pembimbing yang otoriter sampai persoalan dispensasi untuk melakukan penelitian. Jadi tidak hanya persoalan dana saja. Memang banyak orang tua menyadari arti penting kegiatan penelitian untuk membentuk pola pikir dan minat menulis akan dengan senang hati mendukung kegiatan penelitian. Jadi, tugas kita adalah membujuk dan menjelaskan kegiatan tersebut dengan segala segi positifnya karena saya melihat kegiatan penelitian tidak mempunyai efek negatif. Membuktikan itu semua dalam kenyataan seperti tidak menganggu kegiatan belajar dengan diperlihatkan prestasi belajar yang stabil. Kalau itu sudah dimiliki maka akan membantu untuk mendapat dukungan orang tua berupa dana, selain moral sampai memenuhi kebutuhan apa saja selama itu mendukung penelitian yang sedang kita lakukan. 

2)      Pihak sekolah

Sekolah memiliki anggaran pendidikan yang berasal dari siswa, sumbangan dari pihak lain dan kucuran dari pemerintah. Anggaran dana itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan. Anggaran itu juga dikucurkan ke kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang kegiatan pendidikan termasuk ke kelompok ilmiah remaja. Walau pun begitu, biasanya masih ada dana-dana yang diberikan bila melihat manfaat kegiatan itu dilakukan.  Untuk mendapatkan dana untuk kegiatan penelitian  biasanya harus menyusun usulan penelitian sehingga menunjukan kemampuan, tujuan dan manfaat yang akan diperoleh. Diluar pengajuan usulan itu, di sekolah yang cenderung tidak hanya melihat usulan namun juga siapa yang mengajukan. Jadi ini luar konteks kemampuan teknis penelitian yakni persoalan tingkah laku. Termasuk disini adalah prestasi belajar dan keaktifan dalam kegiatan selama di sekolah. merupakan nilai tambah. Umumnya bila kita memang berhasil mendapat dana dari sekolah atau universitas khususnya bila hasil penelitian itu berhasil menang lomba penelitian seperti LKIR atau LPIR, kita biasanya mengembalikan dana tersebut ke sekolah atau diberikan ke kegiatan penelitian yang lain. Menurut saya itu  adil dan sangat positif karena memberi kesempatan orang lain sehingga mendapat pengalaman penelitian. Toh pengalaman selama penelitian tidak bisa diukur dengan hadiah yang diraih karena pengalaman dan peningkatan kemampuan menjadi hal paling penting.  

3)      Industri/instansi pemerintah 

Kadang-kadang penelitian yang kita lakukan mengharuskan dana yang tidak bisa ditanggung walau sudah bersama dengan orang lain karena besaran jumlahnya. Sehingga perlu untuk mencari sumber pembiayaan yang lain. Mengharapkan bantuan memang sulit tapi tetap harus dicoba karena sebelum dicoba siapa yang mengetahui kalau berhasil atau gagal. Keyakinan bisa memberikan hasil penelitian yang benar-benar mereka butuhkan merupakan modal awal yang sangat penting agar upaya mencari sponsor perusahaan atau instansi berhasil. Modal mengetahui kebutuhan pihak tersebut bisa dicapai dengan meminta bantuan orang yang berkaitan langsung dengan pihak tersebut seperti orang dalam yang kita bisa hubungi karena bantuan dari teman atau orang tua teman yang mengenalnya.  Upaya ini memang relatif sulit dan memakan energi karena jarang perusahaan atau instansi yang peduli dengan kegiatan penelitian apalagi untuk remaja yang berminat meneliti. Ada baiknya dicoba ke perusahaan juga dicoba ke instansi pemerintah yang berkaitan dengan penelitian, sama dengan perusahaan  yakni relatif sulit salah satunya karena anggapan remaja itu belum mampu melakukan penelitian yang hebat. Ini salah mereka yang tidak mau melihat perkembangan, hanya tahu bahwa remaja cuma tugasnya belajar di sekolah. Walau begitu, tidak tertutup kemungkinan suatu instansi mau menjadi sponsor penelitian karena melihat hasil penelitian tersebut dapat digunakan oleh instansi tersebut. Itu mungkin terjadi bila lingkup penelitian lebih spesifik dan sesuai dengan kemampuan kita. Kemungkinan itu yang menjadi pertimbangan untuk menjadi sponsor penelitian yang remaja lakukan. Ini dilakukan KIR SMU di Tangerang yang berhasil mendapat sponsor instansi pemerintah yakni PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Jadi mengajukan usulan penelitian memang sebaiknya atas nama lembaga atau organisasi yang kita masuki walau pun penelitian itu akan dilaksanakan berkelompok atau sendirian.

4) Patungan dengan teman

 Patungan dengan teman-teman, umumnya ini dilakukan bila kita meneliti secara berkelompok atau sendirian  namun dibantu oleh teman-teman. Sumber dana ini merupakan salah satu untuk membantu menutupi pengeluaran selama penelitian. Memang relatif kecil berkisar 100 ribu sampai dengan satu juta rupiah. Namun ada hal penting jika sahabat yang tidak berkaitan langsung dengan penelitian karena dengan alasan dia hanya simpatik  sekaligus memiliki uang yang dapat disisihkan.  Ternyata tidak hanya dalam bentuk uang saja menolong tanpa mengharap imbalan seringkali lebih berharga dan berarti dalam melakukan penelitian seperti membantu menyebarkan kuesioner atau mewawancarai seseorang Sehingga walau berdasar niat baik, kita harus menjelaskan resiko tidak akan mendapatkan keinginannya kalau kalah dalam lomba namun jika menang kita harus membaginya secara adil. Bila melibatkan teman dalam kegiatan penelitian pertimbangkan secara matang dan jelas apa yang kita lakukan dan dia peroleh. Ini untuk menghindari apabila ada perselisihan karena salah paham yang akan merusak persahabatan. Tentu saja karena sama-sama belum memiliki pendapatan sendiri, artinya ini patungan tidak bisa diandalkan untuk menutupi pengeluaran penelitian yang relatif besar maka penelitian yang berskala kecil merupakan pilihan terbaik bila memang persoalan dana yang menjadi hambatan karena untuk penelitian kecil biasanya hanya masalah tranport, konsumsi dan alat-alat untuk penelitian, seperti bahan untuk ujicoba atau pun mengandakan kuesioner bila menggunakan metode ini.    

Penutup 

Usulan penelitian berperan sangat penting selain untuk mendapatkan sponsor penelitian yang akan menanggung seluruh atau sebagian biaya penelitian tapi juga menjadi acuan dalam bekerja bagi peneliti itu sendiri dan memudahkan pembimbing memberi masukan dan perbaikan setiap kesalahan yang mungkin timbul. Sponsor penelitian ternyata tidak hanya perusahaan atau instansi pemerintahan tapi juga orang-orang terdekat yang memang dianggap mampu membantu. Hal ini disebabkan karena penelitian yang sebaiknya dilakukan dalam skala kecil yang hanya membutuhkan biaya berkisar 100-300 ribu rupiah. Sesuatu jumlah yang masih bisa dijangkau. Tentu saja dari tabungan atau bantuan dari sekolah atau pun orang tua. Sebagai penutup, kalau pun nantinya tidak ada yang membiaya penelitian, kita tetap jangan lupa untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba penelitian karena banyak hal positif yang bisa didapat. Di lingkungan LIPI, Ketua LIPI Prof. Dr. Taufik Abdullah dalam menyambut para finalis LKIR 2001, berujar:” … forum ini tidak mencari pemenang, karena pemenang ialah semua kalian yang telah berani mengikuti lomba ini – disini kita hanya mencari yang terbaik di antara kalian yang pemenang”. Anda siap untuk menerima tantangan ini?.    

Daftar Bacaan

Sumardjono, Maria S.W. Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian. Jakarta:Gramedia, 1997 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.  Kursus Metode Penelitian Teknologi Bandung 09-18 Desember 1985 Jilid Pertama: Kumpulan Makalah. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1986. 

Blaxter, Loraine. Et.al. How to Research. Buckhingham: Open University, 1996

Pelanggaran Etika Penelitian di Indonesia

Januari 16, 2008 - 9 Tanggapan

    Pendahuluan

Penelitian dan ilmu pengetahuan berkait sangat erat karena kemajuan ilmu pengetahuan ditentukan oleh penelitian.Di Amerika Serikat sendiri, kepedulian akan kegiatan penelitian ditegaskan Presiden Roosevelt, buktinya, Pada saat PD II berakhir, disinilah secara bijaksana dan jeli, Presiden AS (saat itu) F. D. Roosevelt mengirim surat kepada Vannevar Bush — kepala Kantor Penelitian dan Pengembangan Ilmiah di lingkungan Presiden Amerika Serikat — untuk memperhatikan dan menentukan arah pemeliharaan ilmu pengetahuan di negara itu pasca perang. Bagian dari surat ini — dalam lingkup kita sekarang ini dapat diartikan sebagai suatu wujud garis kebijakan Pemerintah – yang relevan untuk dikutip disini ialah yang dirumuskan sebagai pertanyaan (atau penugasan ?) yang ke empat, yaitu Can an effective program be proposed for discovering and developing scientific talent in American youth so that the continuing future of scientific research in this country may be assured on a level comparable to what has been done during the war?….. (“Dapatkah diusulkan suatu program yang efektif untuk menemukan dan mengembangkan bakat ilmiah remaja Amerika sehingga keberlanjutan masa depan penelitian ilmiah di negeri ini dapat dijamin di tingkat yang setara dengan apa yang telah berlangsung selama perang (maksudnya Perang Dunia II) ?. implikasi dari hal ini diturunkan dengan kebijakan mendirikan NSF (National Science Foundation) lembaga yang memberikan dana penelitian sekaligus mengawasi jalannya ilmu pengetahuan agar berjalan dengan cara yang benar dan mengedepankan kebenaran sehingga dapat dimanfaatkan.

 Di Indonesia, penelitian memang belum terlalu maju dan memasyarakat, buktinya profesi peneliti pun kadangkala merupakan pilihan terakhir. Ini berimplikasi banyak peneliti kebetulan yang tentu saja dilihat dari banyaknya lembaga peneliti yang hidup bila ada proyek yang harus diselesaikan dan sebaliknya sepi karena peneliti akan beralih ke aktifitas seperti mengejar proyek lain lagi. Padahal menurut saya idealnya selama tidak ada proyek, bisa melakukan penelitian mandiri.Yang menjadi permasalahan bila profesi peneliti itu dianggap profesi yang tidak ubahnya pekerja di kantor atau buruh. Tentu saja ini pikiran yang salah sebab peneliti berperan agar ilmu yang dihasilkan merupakan ilmu bisa diacu oleh umat manusia, dia harus memproduki kebenaran yang secara sadar akan digunakan oleh umat manusia. Tentu saja penelitian itu harus merupakan proses yang mengedepankan kejujuran baik dalam proses dan pelaporannya. Kejujuran terkait erat dengan konsistensi memegang kebenaran tanpa ada keinginan untuk menutupi apa pun. Disini pihak yang ingin mengetahui hasil penelitian dipastikan akan mendapat kebenaran sesuai kenyataan Namun ternyata itu tidak bisa selalu dijamin walau pun pada akhirnya akan diketahui dan bisa disebut melanggar etika. Persoalan etika ini akan semakin penting bila melihat ada 2 kasus pelanggaran etika berturut-turut yang terjadi di surat kabar yakni pada tanggal 14 dan 16 Januari 2004, yang satu dilakukan oleh dosen yang bergelar doktor terhadap skripsi mahasiswa SI dan tuduhan plagiator terhadap proposal penelitian, di iklan surat kabar iklan penawaran konsultasi seperti Prima Knowledge dan Magna Script tetap gencar dilakukan untuk membuat skripsi sampai disertasi (korantempo, 29 Agustus dan 2 September 2004) sedangkan di samping stasiun kereta api UI ada yang menawarkan jasa untuk membuat skripsi, makalah dan laporan tugas akhir. Jadi pertanyaan, sejauh mana pelanggaran etika dalam dunia penelitian, dan apa yang penyebabnya sehingga dapat dicari cara penanganan kasus dan cara mencegahnya agar kasus yang pernah terjadi dapat menjadi pelajaran bersama?.             

Tantangan Penelitian di Indonesia

Pengertian penelitian sendiri menurut webster, research is careful, systematic, patent study and Investigation in some field of Knowledge, undertaken to discover or establish fact or principles (riset adalah hati-hati, sistematis, studi hak paten dan Penyelidikan dalam beberapa bidang Pengetahuan, dikerjakan untuk menemukan atau menetapkan fakta atau prinsip). Sedangkan McGraw Hill mendefinisikan penelitian sebagai scientific investigation aimed at discovering and applying new facts, techniques, and natural laws (penyelidikan ilmiah yang mengarah pada menemukan dan menerapkan fakta baru, teknik, dan hukum alam). Sedangkan Daoed Joesoef (1986) meneliti adalah usaha menemukan kebenaran ilmiah atau membuktikan kekeliruannya

Oei Ban Lian (1985) mengatakan sigifikasi penelitian adalah untuk mencari jalan keluar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga jika ada yang mengatakan kita dapat mengimpor dari negara maju bisa dipatahkan dengan mengatakan bahwa kebutuhan kita berbeda dengan negara tersebut. Selain itu penelitian diperlukan karena keadaan negeri ini yang sangat beragam sehingga diperlukan penelitian yang mampu menghasilkan produk penelitian yang memang sesuai kebutuhan.

Kesadaran akan peran penelitian itu sendiri sudah disadari oleh pemerintah dengan mendirikan kementrian Ristek yang dibentuk 1978 yang memiliki visi dan misi adalah memwujudkan masyarakat sejahtera berbasis kemampuan iptek. Kementrian ristek berjalan bersama tujuh lembaga pemerintah nondepartemen yang ada dibawahnya. Dengan anggaran dari pemerintah yang sayangnya masih  0.05 % dari PDB atau pun oleh masyarakat dengan mendirikan lembaga riset seperti LSI, CSIS, LP3ES yang pendanaan bersumber sponsor yang tentu lebih ketat karena seringkali tema penelitian dan publikasinya ditentukan sponsor sebagai penyandang dana yang membiaya penelitian mereka. Kesadaran ini di Indonesia memang terasa pada awalnya namun tidak pada bagaimana memelihara kelangsungan. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan memberi intensif kecil tidak sesuai kebutuhan peneliti menyebabkan tidak tercipta suasana kondusif sehingga mampu menghasilkan penelitian maksimal. fenomena brain drain yang terjadi selain faktor uang juga faktor suasana kondusif yang memungkinkan peneliti saling berkomunikasi dan bersaing dengan fair berarti mengandalkan kemampuan profesional dan pendapatan yang cukup walau tidak ingin gajinya setara dengan gaji eksekutif karena banyak peneliti orientasi utamanya adalah kepuasan. Kalau ini tidak terwujud yang terjadi adalah peneliti selain harus memikirkan penelitiannya namun juga harus mencari upaya agar tenaga pendukungnya berjalan maksimal. Ini terjadi di peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang notabene adalah lembaga penelitian yang menjadi salah satu baromoter penelitian di Indonesia.Pertumbuhan peneliti di Indonesia yang cenderung negatif karena kebijakan pertumbuhan peneliti nol itu telah menyebabkan kemungkinan Indonesia untuk kekurangan tenaga peneliti sangat besar. Apa yang terjadi di atas berkaitan dengan pelanggaran etika karena perhatian kurang dari pemerintah menyebabkan keenganan peneliti untuk bekerja maksimal, selain faktor manusia sebagai individu otonom namun faktor keinginan untuk mencapai hasil maksimal yang tidak dibarengi dengan sikap hormat sesama, sebab penelitian dilihat dari prosesnya, berawal dari tinjauan tentang upaya terdahulu yang sudah dilakukan orang khususnya kegiatan ini berupa pelacakan informasi ilmiah dari pusat koleksi informasi atau perpustakaan (Nazif, 2002:5). Inilah yang terjadi bila mengacu dengan cara yang tidak jujur menyebabkan peneliti untuk melakukan pelanggaran etika sangat besar.  

Konsep Etika

Menurut Nazif (2003) etika ialah panduan berbuat bagi orang lain di lingkungan organisasi, atau profesi atau cabang ilmu pengetahuan itu: (1) semacam rambu-rambu-dalam hal ini menjadilah etika sebagai bagian awal pengaturan- atau (2) sebagai yang ideal yang ingin dicapai-dalam hal ini menjadi semacam yang ingin dituju sebagai suatu kemuliaan atau dambaan. Menurut Bertens (1994:27). Etika tidak jarang disebut juga “filsafat praktis”. “Praktis  karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia. Prinsip moral yang biasa mendasari kode berperilaku ialah tak mencederai, pertolongan, mandiri, adil, berguna, setia, jujur dan hormat sesama. Etika dibagi menjadi dua, yakni bagaimana melakukan pelaporan setiap aktifitas penelitian dan bagaimana agar hasil penelitian itu dapat digunakan secara bertanggungjawab.Pelanggaran etika memang bisa dikelompokkan karena hal itu disesuaikan dengan masalah yang dilanggar. Plagiarisme merupakan pelanggaran yang paling sering bisa dideteksi karena melakukan pengutipan yang hampir sama dengan aslinya sehingga plagiarisme didefinisikan using someone else’s ideas or phrasing and representing those ideas or phrasing as our own, either on purpose or through carelessness, is serious offense.   Pelanggaran dalam mengutip (plagiat) biasanya dibagi menjadi  (Wiradi, 1996: 41-45) . 1. Plagiat kata per kata (verbatim Plagiarism).Dibedakan lagi menjadi dua:

a.       Penjiplakan mutlak,

 yaitu suatu kutipan yang mengandung kata demi kata demikian juga susunan kalimatnya persis sama dengan seperti apa yang tertulis di teks sumber. Berarti mirip kutipan langsung namun tanpa tanda petik dan tanpa sumber.

b.      Mirip seperti penjiplakan mutlak, tapi satu dua kata asli diganti atau dihilangkan atau ada satu dua kata sendiri yang dimasukan.

2. Patchwork Plagiat

Jiplakan dengan cara sekedar memindah-mindahkan kata-kata aslinya ke sana ke mari. Sehingga mirip parafrase.

3. Plagiat “kata kunci” atau “frase-kunci”

Mirip dengan patchwork namun kata kunci saja dan/atau frase-kunci.

4. Plagiat struktur gagasan/jalan pikiran

Merupakan jiplakan panjang, terdiri dari banyak rangkaian kalimat, bahkan banyak alinea. Yang dijiplak struktur atau pola gagasan atau pola argumentasi orang lain.           

Sebenarnya pada saat siswa duduk di sekolah dasar terutama SLTP telah diperkenalkan tentang bagaimana melakukan  pengutipan gagasan/data yang dimiliki oleh orang lain namun persoalannya adalah tidak ditekankan pentingnya pengutipan itu untuk menghindari kebohongan dan merangsang untuk mencari gagasan yang lain. Untuk lebih memahami ini, kata Newton, we can see far to the fore because us stand up at shoulder all giant (kita bisa melihat jauh kedepan karena kita berdiri pada pundak para raksasa). Jadi senantiasa harus menghormati apa yang telah dilakukan oleh orang lain karena tanpa mereka kita akan bekerja lebih keras padahal dengan saling membantu apa yang kita ingin capai lebih mudah terwujud.                     

Namun persoalannya, budaya menulis kita memang kurang dikembangkan, ada saja guru/pendidik yang tidak mau berpayah-payah menekankan menulis dalam praktek sekaligus memaksakan peserta didiknya untuk mempraktekkan prosedur mengutip gagasan/data akibatnya prosedurnya hanya dihapalkan yang tentu saja akan mudah hilang. Lihat saja mahasiswa dari tingkat awal akhir (skripsi mahasiswa banyak yang kurang memahami ini) ada saja yang mengambil ide yang bukan miliknya  akibatnya kalau tidak awas, kita akan mengangap mahasiswa itu cerdas. Menggenaskan memang.

Kembali ke penelitian, Menurut Padmadinata (2004), ilmuwan (seringkali juga peneliti) sebagai manusia memiliki kelemahan, antara lain ego,  ceroboh, berbuat salah, menyampaikan data yang salah atau menyembunyikan data, mencuri data atau mengambil data peneliti lain, status dan dana riset dengan mengirimkan proposal sehingga diperlukan pendidikan etika dengan strategi yang ditawarkan oleh David Resnik dalam buku The Ethics of Science, 1998 yang dikutip Nazif (2004), mempromosikan etika secara informal sehingga ada yang sebagai teladan dan mentor menyiapkan contoh yang baik dan menjelaskan bahwa pengetahuan etika dalam ilmu adalah upaya memperoleh pengetahuan secara berangsur-angsur. Selain itu perlu mengandalkan instruksi secara informal yang dibagi menjadi 2 yakni etika sendiri dalam mengset ruang kelas, membaca tentang etika dan menulisnya, dan mendiskusikan kasus dan masalahnya dan etika penelitian untuk membuat peka kepada siswa/mahasiswa agar pentingnya isu etika. Lalu membantu siswa/mahasiswa belajar untuk memikirkan isu etika, memecahkan dilema etika, membantu menolong menyediakan tambahan motivasi untuk kelakuan yang beretika yang memperbolehkan siswa/mahasiswa untuk memahami kebenaran untuk standar tingkah laku dalam ilmu pengetahuan. Ini jelas sekali di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikenal. ……Di Indonesia sendiri, sekitar awal tahun 1980-an, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengkampanyekan suatu seruan

”Peneliti itu harus tekun, peneliti itu harus sabar, peneliti itu harus berani, dan …. peneliti itu harus jujur!”. Dengan demikian, sebenarnya sudah sejak lama LIPI telah menanamkan prinsip moral yang paling mendasar yakni prinsip kejujuran (wiradi, 1996:9) …..

 Kasus Pelanggaran etika

Ada dua kelompok pelanggaran etika, yang pertama disengaja berarti si pelaku tahu apa yang dilakukan merupakan pelanggaran dan sepantasnya mendapat sanksi, kedua, tidak disengaja, atau kata Stephan Covey, pelanggaran bawah sadar terutama untuk materi yang pernah dibaca namun tidak sadar atau memang tidak mengetahui batasan etika sendiri. Untuk mengatasi kemungkinan melanggar etika, peneliti seharusnya dengan penuh kesadaran mengupayakan (memaksa?) untuk selalu mengikuti perkembangan bidang keahliannya dan selalu menjaga komunikasi dengan sesama peneliti sebagai mitra bestari yang akan menjadi partner dalam kegiatan penelitiannya. Tepatnya saling mengingatkan dan mengumpan apa yang dibutuhkan.Fenomena plagiarisme menurut Didiek Hadjar Goenadi PhD, Ahli Peneliti Utama di Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor yang juga Ketua Umum Masyarakat Penemu Indonesia disebabkan oleh 2 hal, pertama, kurang penghargaan terhadap hasil karya orang lain sehingga perlunya pendidikan tentang hal ini sejak usia TK, kedua, lemahnya budaya menulis dan menggunakan dokumen tertulis sebagai acuan[1] inilah upaya mengembangkan budaya tulis untuk sama-sama populer dengan budaya lisan menjadi dasar untuk menngembangkan masyarakat ilmiah yang kuat.           

Perlu ditegaskan bahwa tinjauan empiris pelanggaran etika bukan bagian dari upaya menjatuhkan nama baik seseorang namun diharapkan menjadi peringatan bagi kalangan peneliti dan pemerhatinya agar fenomena plagiarisme menjadi perhatian bersama dan peringatan kepada kita semua, jangan sampai terjadi apa yang dikatakan oleh Bertand Russel, kalau kita mempelajari sejarah maka kita mengetahui bahwa manusia seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali. Kasus yang dibeberkan ternyata hanya bidang ilmu sosial, untuk kasus bidang eksakta memang relatif tidak menonjol namun bukan berarti tidak ada.Ipong S Azhar atau Syaiful S Azhar MS dari UGM yang mengambil karya ilmiah Nurhasim (Peneliti LIPI) dan diaku sebagai miliknya. Radikalisme Petani Masa Orde Baru Baru (Studi Mengenai Gerakan Radikal Petani di Kecamatan Rambipuji, Jenggawah dan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur) diduga karya plagiat dari skripsi milik Moch Nurhasim berjudul Konflik Tanah di Jenggawah (Studi Kasus Tentang Proses dan Hambatan Penyelesaian Konflik Tanah di Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur). Sedangkan Ipong untuk mendapatkan gelar Doktor (S3). Disertasinya diannggap mengabaikan etika dalam pengutipan. Hasil penelitian yang merupakan hasil penelitian orang lain tidak disebutkan secara eksplisit sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa itu merupakan hasil penelitiannnya sendiri.ternyata dari kasus ini diketahui pula bahwa Nurhasim sebenernya menutupi bahwa data dalam skripsinya adalah data sekunder milik petani Jenggawah yang didokumentasikan dengan cukup rapi oleh H Imam Masyhuri AM, salah satu wakil petani Jenggawah. Untuk kasus ini, senat Guru Besar UGM telah membatalkan gelar doktornya (Kompas, 18 Desember 2002).

Zulfan Heri-dosen di Universitas Riau-dituduh telah melakukan plagiat tesis milik Sri Nilawati untuk menyusun proposal penelitian yang diusulkan kepada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Akibat persoalan ini proyek penelitian yang berjudul “Peranan Media Massa dalam Pembangunan Budaya Melayu Menuju Visi 2020”bernilai Rp 281 juta terancam ditunda.. Penjiplakan itu dilaporkan oleh Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Msyarakat Riau (P3MR) Abdul Rahman. Menarik sekali, upaya masing-masing pihak, Zulfan melaporkan Abdul Rahman ke Kepolisian Kota Besar Pekan Baru atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran kabar bohong di media massa.

Zulfan mengatakan tidak usah menjiplak karena ia memiliki database teori yang lengkap di lembaganya, Indonesian Society for Democracy and Peace (ISDP) baik lokal mapun media nasional dan pekerjaan tentang media memang sudah lama menjadi fokusnya (persoalan subject matter bisa dikatakan tidak ada) dan ternyata Abdul Rahman menjawab bahwa itu bisa diketahui dari proses penyusunannya dan melaporkan pelanggaran ini karena beliau tidak disebut-sebut dalam penelitiannya (Kompas, 16 Januari 2004). Berarti Abdul Rahman pun tidak steril dari pelanggaran etika ini.anehKasus plagiat juga menimpa Dr M Nur MS- dosen bergelar doktor di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat (Kompas, 14 Januari 2004, garis bawah dari penulis). Laporan penelitian yang berjudul “Sejarah lokal Sumatera Barat: Perjuangan rakyat dan TNI di Cupak Kabupaten Solok 1945-1950” menjiplak skripsi Boby Hendry berjudul “Negara Cupak Masa Revolusi (1945-1949)”. Tim investigasi dari jurusan sejarah menemukan kesamaan pada tema, metode, data dan fakta, kalimat dan paragraf, catatan kaki, penggunaan sumber tertulis dan lisan, kutipan-kutipan langsung dan tidak langsung, lampiran-lampiran dan daftar pustaka. Tim investegasi sendiri terdiri dari Dr. phil Gusti Asnan, Dr. Herwandi Mhum, Drs. Wannofri Samry Mhum, Drs M Fatchurrahman dan Dra Midawati, Mhum dan merekomendasikan untuk menahan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji berkala untuk dua jenjang kepangkatan (8 tahun) dan tidak mengizinkan untuk diangkat menjadi guru besar, mencabut keanggotaan di Senat fakultas Sastra Universitas Andalas, dan tidak mengizinkan menduduki jabatan struktrual.Apa yang dikatakan oleh Dr M Nur MS, hampir sama dengan  Zulfan Heri, dianggap mencuat karena ada intrik dari bawahannya dan mengatakan pelanggaran etika sudah sering terjadi di perguruan tinggi.namun dia mengatakan laporan penelitian tersebut tidak untuk dipublikasi, hanya keperluan intern.               

 Karya ilmiah yang diikutsertakan dalam lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) baik di LIPI maupun di Departemen Pendidikan Nasional (dikenal Lomba Penelitian Ilmiah Remaja atau disingkat LPIR) ternyata hasil jiplakan alias diragukan sebagai karya ilmiah siswa. Hal itu tak lepas dari besarnya peran orang tua maupun guru dalam keinginannya mengikutsertakan anak sebagai peserta (Kompas, 21 Agustus 2001). Salah satu karya  tersebut yang ditemukan sendiri oleh penulis yakni Perbedaan Waktu Rendam pada Penyamakan Kulit Buaya (Crocodilus novaeguneae) di LKIR oleh Erlin Tri Hartanti sedangkan di LPIR oleh Sonya, lomba tersebut pada tahun 2000[2],  keduanya berasal dari SMUN 1 Merauke, Papua. Finalis yang berbeda memungkinkan karya tersebut lolos selain kegiatan yang tidak berbarengan sehingga ada kemungkinan mengirim ke dua ajang lomba tersebut yang menyebabkan itu dapat terjadi. Kejadian dimungkinkan didorong/diketahui oleh guru pembimbing baik karena ketakutan tidak menjadi finalis atau pun keberanian karena kemungkinan untuk diketahui kecil.disini memang panitia cenderung tidak melakukan dua hal penting, pertama, tidak melakukan seleksi karya yang masuk, ini bisa dilakukan dengan mengamati pergerakan bidang yang diambil. Kedua, tidak ada koordinasi atau minimal komunikasi dengan panitia lomba yang lain. Jadi kemungkinan karya yang sama dilombakan di tempat berbeda kecil kemungkinan terjadi. Kalau ini dilakukan tentu kualitas karya dan peserta meningkat dan membantu dewan juri dalam melakukan seleksi.Mahasiswa SI yang menggunakan jasa pengetikan  skripsi di perempatan Jl Matraman Raya Jakarta Pusat dan lokasi dekat kampus baik kampus negeri maupun swasta (Media Indonesia,1 April 2000). Adanya sinyalemen pelanggaran intelektual disini, dapat diperlihatkan dengan bantuan konsumen sejak dari proposal, database teori, pengumpulan dan pengolahan data. Dan bila menjelang ujian mereka akan diajukan dalam simulasi ujian yang tentu saja tenaga penguji akan menanyakan sejauh mana kemampuan si konsumen untuk memahami skripsi yang dibuat.Ada tarif untuk mendapatkan itu semua, mahasiswa S 1 sekali bimbingan harus merogoh Rp 100 ribu, untuk mahasiswa S 2 dikenai tarif Rp 150 ribu, dan anehnya disertasi untuk S 3 sebesar Rp 300 ribu. Selain pengetikan, ada juga penawaran proposal penelitan dan skripsi, di Yogyakarta, skripsi di jual seharga Rp 60 ribu untuk ilmu sosial sedangkan ilmu eksak sebesar Rp 70 ribu. Jadi mahasiswa tinggal merubh sedikit sehingga memungkinkan tidak diketahui, modus ini mirip seperti di Tasikmalaya.Ternyata ada pembuat skripsi yang pendidikannya hanya tamat SLTA namun mampu karena sering menerima jasa mengetikan skripsi dan lama kelamaan memahami metode penulisan. Ini aneh bagaimana pembimbing dan penguji mampu meloloskan skripsi. Ada lagi, pembuat skripsi  yang mencuri skripsi dari perpustakaan untuk mempelajari guna meningkatkan kemampuan membuat skripsi, ternyata ada lagi, praktik penjualan disket skripsi yang konsumennya tinggal sedikit mengganti namanya dan dosen yang menawarkan kepada mahasiswa yang dikenal dekat, berdasar sumber ini diketahui pula bahwa ilmu eksakta cenderung lebih susah dibisniskan.(Media Indonesia, 12 Juli 2004).Penanganan pelanggaran etika khususnya kasus Amir Santoso, Zulfan Heri dan Dr M Nur MS sering dikesankan sebagai ajang balas dendam terhadap musuhnya. Ini bagi saya menunjukan dua hal, pertama, tidak ada kemauan untuk saling memeriksa diri kembali secara komprehensif, kedua, belum tegaknya hukum etika karena lebih cenderung diselesaikan dengan cara-cara yang tidak tegas. Ini terlihat pada kasus tuduhan Yahya Muhaimin.Memang karakteristik plagiator lebih menyedihkan daripada pencuri yang bersifat fisik atau benda. Pencuri biasanya akan mengakui bahwa barang yang dimiliki sebenarnya merupakan milik orang lain namun plagiator sama sekali tidak mengakui bahwa karyanya merupakan hasil karya orang lain namun malahan diaku sebagai karya dirinya sendiri. 

Upaya menghindari pelanggaran etika

Pengalaman saya pribadi terlibat beberapa proyek penelitian/survai walaupun hanya dalam tingkat pelaksana lapangan namun hal ini penting untuk disampaikan sebagai upaya untuk memberi pelajaran keterkaitan kegiatan mahasiswa sebagai calon intelektual yang benar-benar dikembangkan untuk ikut terlibat dalam pengembanngan ilmu,. Banyak permintaan dari teman-teman yang saya kenal yang secara langsung mau pun tidak langsung meminta diikutkan dalam proyek penelitian yang tentu saja memang tujuan besaran uang yang diperoleh. Namun saya pikir ini sama sekali tidak konstruktif untuk memasyarakatan etika penelitian bila penelitian dikaitkan dengan proyek tapi bukan sebagai upaya mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada awal (bila penelitian kuantitatif) atau awal atau pertengahan (bila penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif). Karena yang dipikirkan bagaimana menyelesaikan penelitian dan mendapatkan uangnya bukan pada proses dan jawaban yang dibutuhkan. Kalau terakhir ini benar-benar dihayati tentu saja akan menjadi faktor penting agar etika penelitian benar-benar dijaga. Singkatnya, kalau berorientasi dengan proyek maka orientasi uang tapi kalau orientasi dengan penelitian itu sendiri maka orientasi ke jawaban atas pertanyaan penelitian.            Perlu disadarkan kepada umumnya mahasiswa, pada saat ini fokus mereka adalah melakukan pembelajaran terhadap bagaimana menguasai metode mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau dalam proyek penelitian memang diajarkan namun tidak maksimal. Jarang sekali dilibatkan dalam pembuatan instrumen penelitian karena kesempatan mereka hanyalah bagaimana mencari data di lapangan. Jadi mahasiswa terima jadi. Padahal bila kemampuan meneliti bisa berkembang kalau kita melakukan penelitian mandiri dan kalau itu terjadi maka proyek penelitian pun biasanya akan datang dengan sendirinya. Kata B.J. Habibie, untuk mengembangkan teknologi (pastilah berkaitan dengan penelitian) yang dibutuhkan adalah wawasan kredibilitas dan prediktibilitas.”kalau Anda punya uang banyak tapi tidak kredibel dan sulit diprediksi, uang Anda akan keluar ke tempat lain. Akan tetapi, dengan uang yang sedikit, tetapi Anda mempunyai satu tim yang credibel dan predictable, serta memiliki wawasan yang nyata, maka uang itu akan datang berbaris mengetuk pintu Anda” (Gatra, Agustus 2004). Kemampuan itu berkembang salah satunya dengan mencoba mengikuti perlombaan ilmiah seperti Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi atau PPRI (Pemilihan Peneliti Remaja Indonesi) LIPI.  

Memang mencoba merubah pandangan ini akhirnya tidak hanya mengajarkan etika sebagai satu hal yang terpisah dari proses penelitian. Mensosialisasikan bahwa penelitian merupakan proses yang tidak steril dengan kesalahan dan tidak dituntut persyaratan yang bersifat teknis yang merupakan produk pembelajaran. Untuk pertama, kata Medawar, penelitian tidak berkaitan dengan prestasi akademik karena yang lebih penting adalah bagaimana menghadapi kegagalan dan mencari jalan keluar setiap persoalan (Medawar,1992:9). Jadi penelitian memang tidak harus sarjana yang berarti telah mencapai prestasi akademik tertentu Sedangkan, kedua, persoalan penguasaan teknik, berkembangnya pemikiran tersebut memang karena penelitian itu sulit dan mengharuskan penguasaan bidang ilmu (subject matter) dan metode seperti kata Sudarwan Danim memang benar (2000:48). Tapi dalam dunia penelitian sendiri tidak mengharamkan kesalahan (Kompas, 5 Juli 2001), apalagi Watson dan Crick (Padmadinata, 2004) mengatakan  

debate and revision of ideas in science is a natural process. Even as scientist debate the processes of evolution, the vast majority accept that it has happened. Debate is not evidence that the theory of evolution is fatally flawed..  

Peneliti boleh salah tapi harus jujur. Salah harus diterima dengan sabar dan tekun untuk memperbaiki kesalahan tersebut karena kesalahan ditemukan agar kebenaran yang memang dicari ditemukan dan digunakan sebagai acuan. Ini lebih efektif karena membuang hal-hal salah sehingga dapat menemukan kebenaran. Kalau etika sudah dilanggar kebenaran akan bercampur dengan kesalahan. Ini sangat berbahaya.Asumsi saya adalah bila benar-benar membutuhkan jawaban penelitian dengan pelaksanaan penelitian yang berkualitas maka kemungkinan orientasi kebenaran hakiki yang dihasilkan dari proses penelitian yang melelahkan seperti telah saya jelaskan di depan agar menjadi faktor pencegah keinginan untuk melanggar etika. Jadi penghayatan dan kesadaran bahwa sesuatu diperoleh lewat perjuangan dan kerja keras merupakan faktor penting. Kasus mahasiswa di Jalan Pramuka dan maraknya penjualan jasa konsultasi merupakan jawaban atas kurangnya faktor penghayatan dan kesadaran akan masalah etika penelitian. Memang penelitian itu tidak menyenangkan, jauh dari kesan glamaour. Tapi ingat, kesenangan meneliti adalah memecahkan teka-teki kenyataan seperti diungkapkan oleh Fisikiawan Richard Feynman (Kompas, 21 Agustus 2004).Apa yang dilakukan oleh DR. Ir.Amru Hydari Nazif. M.sc, pada saat promosi salah satu doktor di Universitas Padjajaran, Bandung, bisa diadopsi oleh pembimbing untuk selalu menekankan pentingnya memperhatikan kandungan etika agar jangan sampai  ada tuduhan/dakwaan melakukan pelanggaran etika terutama dalam pengutipan dan mencantumkan sumber acuan. Sebab persoalan etika ini tampaknya dianggap tidak kalah penting dengan pemahaman metode padahal metode itu bisa dipelajari sendiri sedangkan etika selain pengetahuan luas tentang konsepnya juga bisa memberikan bagaimana tantangan untuk menerapkan. Persoalan pelanggaran sudah sedemikian parah, mengapa kita tidak mengkoreksi diri saat membimbing penelitian. Para pakar seharusnya juga meniru Andi Hakim Nasoetion (Guru Besar Statistik dan Genetika Kuantitatif IPB dan Mantan Rektor IPB), Salvador Lorea (peraih nobel biologi) adalah dosen tingkat satu di Massachusetts Institute of Technology dan Linus Pauling, Pemenang Nobel Kimia pernah mengajar kimia di tingkat satu pada universitas Berkeley (Tempo, 9 Januari 2000) untuk memberi perhatian kepada mahasiswa pada tingkat awal sebab dengan mendapat teladan (role model) maka cara berpikir pun akan tertular seperti harus bekerja keras.ini berdasar juga sosiologiwati masyarakat lapisan atas Harriet A Zuckerman (Scientific Elite: Nobel Laureates in The United States, New York:Free Press, 1977) menemukan bahwa hampir semua hadiah nobel dalam sains pada suatu ketika pernah dipandu seorang pemenang hadiah nobel, walau pun ketika itu pembimbingnya itu belum mendapatkan hadiah nobel (dikutip dari Nasoetion). Kita ketahui, dalam sejarah tidak ada peraih nobel yang sampai saat ini terjerat plagiarisme.Menurut saya ini akan lebih efektif saat dibimbingnya melakukan penelitian, ini akan lebih mudah dan terserap karena materi yang disampaikan ditekan untuk selalu diingat. Jadi ada faktor pemaksa yang sangat ideal, yakni bersumber dari diri sendiri. Kebutuhan agar yang sedang dikerjakan tidak sia-sia karena dianulir karena dianggap melanggar etika penelitian. Kata Aristoteles, apa yang harus kita pelajari, dipelajari melalui praktik. Pada saat bimbingan perlu ditawarkan pendapat Hare, pentingnya imajinasi dalam etika. Apabila universilatis berfungsi sebagai pengendali tingkah laku, manusia harus bisa membayangkan apa rasanya menjadi korban (Dave and Robinson, 1998:97)           

Faktor perencanaan penyelesaian penelitian pun harus dipertimbangkan karena dengan waktu yang sudah diperhitungkan kemungkinan untuk melakukan proses mengambil keputusan pun lebih leluasa. Sebab proses melakukan tahapan penelitian yang diikuti dengan maksimal akan mempengaruhi jalannya penelitian.ada kemungkinan terutama dalam penyelenggaran proyek penelitian yang dibiayai lembaga tenggang waktu yang diberikan ketat sehingga bila dilakukan karena ada proyek lain maka diserahkan ke orang lain. Maka bisa timbul apa yang disebut korupsi ala peneliti yakni selain mengambil uangnya namun juga mengambil kesempatan peneliti lain. Ini tentu saja menggenaskan karena penelitian identik dengan profesi yang memiliki tuntutan etika yang relatif ketat, jadi benar-benar terinternalisasi.           

Perlu dikaitkan kegiatan menjaga etika dengan pelaksanaan ibadah kepada Tuhan. Ini tidak ada maksud untuk mencampuradukan namun saya melihat kejujuran yang diajarkan oleh agama sebenarnya sangat efektif untuk membantu bahwa ini bisa diterapkan dalam dunia penelitian. Menekankan penelitian harus tetap mengedepankan kejujuran sehingga harus dengan berbagai upaya menghindari kemungkinan untuk melakukan kebohongan karena persoalan yang dihadapi pastilah bisa diselesaikan tanpa harus merugikan orang lain seperti dengan melanggar etika. Jadi ini menjawab Michael Zigmond, guru besar dalam neuro-science di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa yang perlu ialah teaching students how to recognise and defuse the intense pressure that can produce fraud (Nazif, 2003)Metode yang digunakan oleh Satya Arinanto, untuk mengetahui suatu karya benar-benar merupakan hasil penelitian dengan mengajukan pertanyaan seputar buku acuan (Tempo, 18 April 2004). Metode itu gampang diatasi dengan melakukan persiapan yang lebih panjang. Nah menghadirkan pembimbing untuk mengetahui sejauh mana melakukan bimbingan, dan perlu dilakukan kontrol dari sesama peneliti.ini penting dilakukan karena jasa konsultasi juga telah menyiapkan serangkaian simulasi yang pastinya sudah melakukan berbagai antisipasi. Walau pun metode menguji sumber diacu bisa menjadi cara yang efektif namun metode yang tidak komprehensif tidak akan menyelesaikan persoalan yang mendasar ini.Rusdi Muchtar mengusulkan pembentukan Komite Etika Ilmu Pengetahuan yang mengawasi pemberlakuan metode ilmiah pada semua jenis penelitian di Indonesia. Badan ini harus terintegrasi dengan universitas-universitas dan lembaga penelitian swasta sehingga terbangun sistem bank data penelitian di Indonesia (Kompas, 18 Desember 2002). Selain itu perlu adanya komisi etika independen agar pelanggaran etika ini diselesaikan dengan cara yang profesional bersih dari intrik pribadi yang jauh dari esensi penelitian yang mengedepankan hormat sesama dan jujur. Dan kerja dari komisi ini perlu disosialisasikan secara luas, jadi tak hanya kalangan peneliti saja namun sampai calon peneliti (terutama mahasiswa) dan masyarakat luas. Sebab persoalan pelangggaran etika sebenarnya merupakan fenomena yang lama menyeruak. 

Kesimpulan           

Pelanggaran etika disebabkan adanya kurang kesadaran akan kerja keras dan kurang menghargai hasil karya orang lain. Juga tidak adanya upaya secara sistematis untuk mengajarkan etika penelitian secara sistematis sejak usia dini seperti di Korea Selatan yang diajarkan sejak kelas III SD hingga kelas I SMA. Selanjutnya untuk siswa kelas II dan III SMA, materi etika lebih ditekankan, yang meliputi mata pelajaran etika sipil, etika dan gagasan, serta etika tradisional (Kompas, 4 September, 2004) dikalangan mahasiswa pun metode penelitian hanya menekankan metodologi padahal tidak kalah penting perlunya etika memberi titik tekan akan perlunya hormat sesama dan jujur.           

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh peneliti sendiri untuk mencegah plagiarisme selain memperluas wawasan dengan menggunakan akses informasi yang ada, dan ini memang membutuhkan biaya sehingga pemerintah harus memiliki komitmen  terhadap para peneliti agar bekerja dengan maksimal. Dan dalam penelitian perlu dipertimbangkan tahapan penelitian dengan waktu yang diperlukan.           

Etika harus selalu ditekankan dalam bimbingan penelitian terutama dalam tingkat awal untuk mahasiswa dalam menyusun skripsi lebih diperluas lagi dengan menekankan kasus pelanggaran etika penelitian dan perlunya para pakar untuk lebih meluangkan waktu untuk menjadi role model tentang bidangnya selain menjaga etika dan integritasnya. Dengan melihat bagaimana menjaga agar kualitas penelitian dapat dijaga maka tidak ada maksud untuk melarang orang mencari penghasilan dengan menawarkan jasa dan ketrampilannya membantu dalam proses melakukan penelitian namun apakah dengan mengorbankan kebenaran dan melakukan kesia-siaan untuk si pemakai jasa tersebut. Jadi Polisi dan pihak terkait harus bertindak.Untuk pihak yang berwenang disini, pihak insitusi yang paling tinggi di negara ini dan pihak kepolisian, Saya meminta maaf dalam bahasa daerah kepada sidang Raja Adat di Mandailing dengan mengucapkan “Santabi, sapulu noli santabi tu raja-raja, tarlobi-lobi tu Raja Panusunan”. Kalau hendak mengajukan pertanyaan yang dapat membawa bahaya bagi penanya. Apakah tidak malu selain bangsa kita disebut negara dengan korupsi salah satu tertinggi di Asia juga dengan plagiator di berbagai insitusi penelitian. Ini tanggungjawab kita semua lebih khusus kepada pihak yang berkaitan langsung dengan penelitian. Kita sudah menghasilkan remaja pemenang First Step Nobel Prize yang menunjukan sebenarnya kita memiliki potensi luar biasa. Jadi tindak tegas dan kalau perlu publikasikan pelanggar etika yang keterlaluan. Sudah saatnya etika penelitian beriringan dengan keinginan untuk bekerja maksimal sehingga siapa pun yang berhasil mencapai prestasi maksimal mendapatkan apa yang memang menjadi haknya. Credit  should be given where credit is due but not where it is no due.   

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Danim, Sudarwan. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta: Bumi Aksara, 2000

K. Bertens. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994

Wiradi, Gunawan. Etika Penulisan Karya Ilmiah:Beberapa Butir Prinsip Dasar. Bandung:Yayasan Akatiga, 1996

Robinson, Dave & Chris Garratt. Mengenal Etika: For Beginners. Bandung: Mizan, 1998

Medawar. Nasehat untuk Ilmuwan Muda.Terj. Andi Hakim Nasoetion. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,1992 Oei Ban Liang, Orientasi Ilmiah, makalah dalam pelatihan metode penelitian teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.  Kursus Metode Penelitian Teknologi Bandung 09-18 Desember 1985 Jilid Pertama: Kumpulan Makalah. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1986.Joesoef, Daoed. Membudayakan ilmu pengetahuan. Dalam Analisa, 1986-10. Jakarta: CSIS, 1986 

Surat kabar/internet

“Andi Hakim Nasution: Dengan Matematika Orang tak Jadi papan selancar politik”. Tempo, 9 Januari 2000“Banyak sarjana skripsinya beli di pinggir Jalan”. Media Indonesia,1 April 2000“Dosen Unri Bantah telah melakukan Plagiat”. Kompas, 16 Januari 2004“Dosen bergelar doktor jiplak skripsi mahasiswa”, Kompas, 14 Januari 200Donny Gabral Ardian,Menuju Unversitas Riset”. kompas, 21 Agustus 2004“Eureka Indonesia”. Gatra. Edisi Khusus 17 Agustus 2004. “Kasus Plagiat Amir Santoso terbongkar”, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/12/06/0003.html“Moral dan etika sejak dini”, Kompas, 4 September, 2004“berbohong tabu bagi peneliti”, kompas, 5 Juli 2001“Kado Plagiat buat Amir”, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/01/04/0010.html, diakses tanggal 1 September 2004, bahan berdasarkan laporan Ahmad Nur S. dari Majalah D&R, 27 Desember 1997“Dr Ipong Minta Izin Revisi Data”, http://www.indomedia.com/bernas/2002/26/UTAMA/26uta7.htm. diakses tanggal 1 September 2004 “Jual Beli Skripsi Makin banyak diminat”. Media Indonesia, 12 Juli 2004. Dapat diakses di http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004071200264518Ilmuwan Indonesia lakukan Plagiarisme.Kompas, 18 Desember 2002. Bahan ini juga diakses di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0212/18/iptek/52148.htm pada tanggal 1 September 2004. 

Makalah

Padmadinata, Fatima Zulfah. Integritas Ilmuwan dan Etika Ilmu Pengetahuan. Makalah untuk seminar Pemahaman Etika dan kunjungan terbimbing di Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Serpong, 2 September 2004.Nazif, Amru Hydari, Etika Ilmu Pengetahuan. Makalah untuk acara Pelatihan penulisan Ilmiah Juli 2004. Di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI.———————-. Etika Keilmuan dan Karya Tulis Ilmiah. Makalah untuk pendidikan dan Pelatihan Metodologi Penelitian untuk Karyawan dan dosen Universitas Budi Luhur, 13-23 Januari 2003.———————-. Pengembangan Hasil Penelitian: menuju pemahaman dan kemampuan baru. Bahan seminar sehari yang membahas manajemen penelitian, kegiatan dalam technological and Professional Skill Development Sector Project. Asian Development Bank, 14 September 2002 di kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. 

Ucapan terima kasih

Untuk DR. Ir. Amru Hydari Nazif, M.sc (Ketua Tim Kajian Bioetika LIPI) yang memberi banyak bahan tentang etika, berdiskusi dan memberi kesempatan penulis untuk mengikuti beberapa seminar tentang etika yang diselenggarakan oleh LIPI walau pun begitu tanggungjawab ada pada penulis sepenuhnya. 


[1] Kompas, 3 Januari 2000