Pelanggaran Etika Penelitian di Indonesia

    Pendahuluan

Penelitian dan ilmu pengetahuan berkait sangat erat karena kemajuan ilmu pengetahuan ditentukan oleh penelitian.Di Amerika Serikat sendiri, kepedulian akan kegiatan penelitian ditegaskan Presiden Roosevelt, buktinya, Pada saat PD II berakhir, disinilah secara bijaksana dan jeli, Presiden AS (saat itu) F. D. Roosevelt mengirim surat kepada Vannevar Bush — kepala Kantor Penelitian dan Pengembangan Ilmiah di lingkungan Presiden Amerika Serikat — untuk memperhatikan dan menentukan arah pemeliharaan ilmu pengetahuan di negara itu pasca perang. Bagian dari surat ini — dalam lingkup kita sekarang ini dapat diartikan sebagai suatu wujud garis kebijakan Pemerintah – yang relevan untuk dikutip disini ialah yang dirumuskan sebagai pertanyaan (atau penugasan ?) yang ke empat, yaitu Can an effective program be proposed for discovering and developing scientific talent in American youth so that the continuing future of scientific research in this country may be assured on a level comparable to what has been done during the war?….. (“Dapatkah diusulkan suatu program yang efektif untuk menemukan dan mengembangkan bakat ilmiah remaja Amerika sehingga keberlanjutan masa depan penelitian ilmiah di negeri ini dapat dijamin di tingkat yang setara dengan apa yang telah berlangsung selama perang (maksudnya Perang Dunia II) ?. implikasi dari hal ini diturunkan dengan kebijakan mendirikan NSF (National Science Foundation) lembaga yang memberikan dana penelitian sekaligus mengawasi jalannya ilmu pengetahuan agar berjalan dengan cara yang benar dan mengedepankan kebenaran sehingga dapat dimanfaatkan.

 Di Indonesia, penelitian memang belum terlalu maju dan memasyarakat, buktinya profesi peneliti pun kadangkala merupakan pilihan terakhir. Ini berimplikasi banyak peneliti kebetulan yang tentu saja dilihat dari banyaknya lembaga peneliti yang hidup bila ada proyek yang harus diselesaikan dan sebaliknya sepi karena peneliti akan beralih ke aktifitas seperti mengejar proyek lain lagi. Padahal menurut saya idealnya selama tidak ada proyek, bisa melakukan penelitian mandiri.Yang menjadi permasalahan bila profesi peneliti itu dianggap profesi yang tidak ubahnya pekerja di kantor atau buruh. Tentu saja ini pikiran yang salah sebab peneliti berperan agar ilmu yang dihasilkan merupakan ilmu bisa diacu oleh umat manusia, dia harus memproduki kebenaran yang secara sadar akan digunakan oleh umat manusia. Tentu saja penelitian itu harus merupakan proses yang mengedepankan kejujuran baik dalam proses dan pelaporannya. Kejujuran terkait erat dengan konsistensi memegang kebenaran tanpa ada keinginan untuk menutupi apa pun. Disini pihak yang ingin mengetahui hasil penelitian dipastikan akan mendapat kebenaran sesuai kenyataan Namun ternyata itu tidak bisa selalu dijamin walau pun pada akhirnya akan diketahui dan bisa disebut melanggar etika. Persoalan etika ini akan semakin penting bila melihat ada 2 kasus pelanggaran etika berturut-turut yang terjadi di surat kabar yakni pada tanggal 14 dan 16 Januari 2004, yang satu dilakukan oleh dosen yang bergelar doktor terhadap skripsi mahasiswa SI dan tuduhan plagiator terhadap proposal penelitian, di iklan surat kabar iklan penawaran konsultasi seperti Prima Knowledge dan Magna Script tetap gencar dilakukan untuk membuat skripsi sampai disertasi (korantempo, 29 Agustus dan 2 September 2004) sedangkan di samping stasiun kereta api UI ada yang menawarkan jasa untuk membuat skripsi, makalah dan laporan tugas akhir. Jadi pertanyaan, sejauh mana pelanggaran etika dalam dunia penelitian, dan apa yang penyebabnya sehingga dapat dicari cara penanganan kasus dan cara mencegahnya agar kasus yang pernah terjadi dapat menjadi pelajaran bersama?.             

Tantangan Penelitian di Indonesia

Pengertian penelitian sendiri menurut webster, research is careful, systematic, patent study and Investigation in some field of Knowledge, undertaken to discover or establish fact or principles (riset adalah hati-hati, sistematis, studi hak paten dan Penyelidikan dalam beberapa bidang Pengetahuan, dikerjakan untuk menemukan atau menetapkan fakta atau prinsip). Sedangkan McGraw Hill mendefinisikan penelitian sebagai scientific investigation aimed at discovering and applying new facts, techniques, and natural laws (penyelidikan ilmiah yang mengarah pada menemukan dan menerapkan fakta baru, teknik, dan hukum alam). Sedangkan Daoed Joesoef (1986) meneliti adalah usaha menemukan kebenaran ilmiah atau membuktikan kekeliruannya

Oei Ban Lian (1985) mengatakan sigifikasi penelitian adalah untuk mencari jalan keluar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga jika ada yang mengatakan kita dapat mengimpor dari negara maju bisa dipatahkan dengan mengatakan bahwa kebutuhan kita berbeda dengan negara tersebut. Selain itu penelitian diperlukan karena keadaan negeri ini yang sangat beragam sehingga diperlukan penelitian yang mampu menghasilkan produk penelitian yang memang sesuai kebutuhan.

Kesadaran akan peran penelitian itu sendiri sudah disadari oleh pemerintah dengan mendirikan kementrian Ristek yang dibentuk 1978 yang memiliki visi dan misi adalah memwujudkan masyarakat sejahtera berbasis kemampuan iptek. Kementrian ristek berjalan bersama tujuh lembaga pemerintah nondepartemen yang ada dibawahnya. Dengan anggaran dari pemerintah yang sayangnya masih  0.05 % dari PDB atau pun oleh masyarakat dengan mendirikan lembaga riset seperti LSI, CSIS, LP3ES yang pendanaan bersumber sponsor yang tentu lebih ketat karena seringkali tema penelitian dan publikasinya ditentukan sponsor sebagai penyandang dana yang membiaya penelitian mereka. Kesadaran ini di Indonesia memang terasa pada awalnya namun tidak pada bagaimana memelihara kelangsungan. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan memberi intensif kecil tidak sesuai kebutuhan peneliti menyebabkan tidak tercipta suasana kondusif sehingga mampu menghasilkan penelitian maksimal. fenomena brain drain yang terjadi selain faktor uang juga faktor suasana kondusif yang memungkinkan peneliti saling berkomunikasi dan bersaing dengan fair berarti mengandalkan kemampuan profesional dan pendapatan yang cukup walau tidak ingin gajinya setara dengan gaji eksekutif karena banyak peneliti orientasi utamanya adalah kepuasan. Kalau ini tidak terwujud yang terjadi adalah peneliti selain harus memikirkan penelitiannya namun juga harus mencari upaya agar tenaga pendukungnya berjalan maksimal. Ini terjadi di peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang notabene adalah lembaga penelitian yang menjadi salah satu baromoter penelitian di Indonesia.Pertumbuhan peneliti di Indonesia yang cenderung negatif karena kebijakan pertumbuhan peneliti nol itu telah menyebabkan kemungkinan Indonesia untuk kekurangan tenaga peneliti sangat besar. Apa yang terjadi di atas berkaitan dengan pelanggaran etika karena perhatian kurang dari pemerintah menyebabkan keenganan peneliti untuk bekerja maksimal, selain faktor manusia sebagai individu otonom namun faktor keinginan untuk mencapai hasil maksimal yang tidak dibarengi dengan sikap hormat sesama, sebab penelitian dilihat dari prosesnya, berawal dari tinjauan tentang upaya terdahulu yang sudah dilakukan orang khususnya kegiatan ini berupa pelacakan informasi ilmiah dari pusat koleksi informasi atau perpustakaan (Nazif, 2002:5). Inilah yang terjadi bila mengacu dengan cara yang tidak jujur menyebabkan peneliti untuk melakukan pelanggaran etika sangat besar.  

Konsep Etika

Menurut Nazif (2003) etika ialah panduan berbuat bagi orang lain di lingkungan organisasi, atau profesi atau cabang ilmu pengetahuan itu: (1) semacam rambu-rambu-dalam hal ini menjadilah etika sebagai bagian awal pengaturan- atau (2) sebagai yang ideal yang ingin dicapai-dalam hal ini menjadi semacam yang ingin dituju sebagai suatu kemuliaan atau dambaan. Menurut Bertens (1994:27). Etika tidak jarang disebut juga “filsafat praktis”. “Praktis  karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia. Prinsip moral yang biasa mendasari kode berperilaku ialah tak mencederai, pertolongan, mandiri, adil, berguna, setia, jujur dan hormat sesama. Etika dibagi menjadi dua, yakni bagaimana melakukan pelaporan setiap aktifitas penelitian dan bagaimana agar hasil penelitian itu dapat digunakan secara bertanggungjawab.Pelanggaran etika memang bisa dikelompokkan karena hal itu disesuaikan dengan masalah yang dilanggar. Plagiarisme merupakan pelanggaran yang paling sering bisa dideteksi karena melakukan pengutipan yang hampir sama dengan aslinya sehingga plagiarisme didefinisikan using someone else’s ideas or phrasing and representing those ideas or phrasing as our own, either on purpose or through carelessness, is serious offense.   Pelanggaran dalam mengutip (plagiat) biasanya dibagi menjadi  (Wiradi, 1996: 41-45) . 1. Plagiat kata per kata (verbatim Plagiarism).Dibedakan lagi menjadi dua:

a.       Penjiplakan mutlak,

 yaitu suatu kutipan yang mengandung kata demi kata demikian juga susunan kalimatnya persis sama dengan seperti apa yang tertulis di teks sumber. Berarti mirip kutipan langsung namun tanpa tanda petik dan tanpa sumber.

b.      Mirip seperti penjiplakan mutlak, tapi satu dua kata asli diganti atau dihilangkan atau ada satu dua kata sendiri yang dimasukan.

2. Patchwork Plagiat

Jiplakan dengan cara sekedar memindah-mindahkan kata-kata aslinya ke sana ke mari. Sehingga mirip parafrase.

3. Plagiat “kata kunci” atau “frase-kunci”

Mirip dengan patchwork namun kata kunci saja dan/atau frase-kunci.

4. Plagiat struktur gagasan/jalan pikiran

Merupakan jiplakan panjang, terdiri dari banyak rangkaian kalimat, bahkan banyak alinea. Yang dijiplak struktur atau pola gagasan atau pola argumentasi orang lain.           

Sebenarnya pada saat siswa duduk di sekolah dasar terutama SLTP telah diperkenalkan tentang bagaimana melakukan  pengutipan gagasan/data yang dimiliki oleh orang lain namun persoalannya adalah tidak ditekankan pentingnya pengutipan itu untuk menghindari kebohongan dan merangsang untuk mencari gagasan yang lain. Untuk lebih memahami ini, kata Newton, we can see far to the fore because us stand up at shoulder all giant (kita bisa melihat jauh kedepan karena kita berdiri pada pundak para raksasa). Jadi senantiasa harus menghormati apa yang telah dilakukan oleh orang lain karena tanpa mereka kita akan bekerja lebih keras padahal dengan saling membantu apa yang kita ingin capai lebih mudah terwujud.                     

Namun persoalannya, budaya menulis kita memang kurang dikembangkan, ada saja guru/pendidik yang tidak mau berpayah-payah menekankan menulis dalam praktek sekaligus memaksakan peserta didiknya untuk mempraktekkan prosedur mengutip gagasan/data akibatnya prosedurnya hanya dihapalkan yang tentu saja akan mudah hilang. Lihat saja mahasiswa dari tingkat awal akhir (skripsi mahasiswa banyak yang kurang memahami ini) ada saja yang mengambil ide yang bukan miliknya  akibatnya kalau tidak awas, kita akan mengangap mahasiswa itu cerdas. Menggenaskan memang.

Kembali ke penelitian, Menurut Padmadinata (2004), ilmuwan (seringkali juga peneliti) sebagai manusia memiliki kelemahan, antara lain ego,  ceroboh, berbuat salah, menyampaikan data yang salah atau menyembunyikan data, mencuri data atau mengambil data peneliti lain, status dan dana riset dengan mengirimkan proposal sehingga diperlukan pendidikan etika dengan strategi yang ditawarkan oleh David Resnik dalam buku The Ethics of Science, 1998 yang dikutip Nazif (2004), mempromosikan etika secara informal sehingga ada yang sebagai teladan dan mentor menyiapkan contoh yang baik dan menjelaskan bahwa pengetahuan etika dalam ilmu adalah upaya memperoleh pengetahuan secara berangsur-angsur. Selain itu perlu mengandalkan instruksi secara informal yang dibagi menjadi 2 yakni etika sendiri dalam mengset ruang kelas, membaca tentang etika dan menulisnya, dan mendiskusikan kasus dan masalahnya dan etika penelitian untuk membuat peka kepada siswa/mahasiswa agar pentingnya isu etika. Lalu membantu siswa/mahasiswa belajar untuk memikirkan isu etika, memecahkan dilema etika, membantu menolong menyediakan tambahan motivasi untuk kelakuan yang beretika yang memperbolehkan siswa/mahasiswa untuk memahami kebenaran untuk standar tingkah laku dalam ilmu pengetahuan. Ini jelas sekali di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikenal. ……Di Indonesia sendiri, sekitar awal tahun 1980-an, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengkampanyekan suatu seruan

”Peneliti itu harus tekun, peneliti itu harus sabar, peneliti itu harus berani, dan …. peneliti itu harus jujur!”. Dengan demikian, sebenarnya sudah sejak lama LIPI telah menanamkan prinsip moral yang paling mendasar yakni prinsip kejujuran (wiradi, 1996:9) …..

 Kasus Pelanggaran etika

Ada dua kelompok pelanggaran etika, yang pertama disengaja berarti si pelaku tahu apa yang dilakukan merupakan pelanggaran dan sepantasnya mendapat sanksi, kedua, tidak disengaja, atau kata Stephan Covey, pelanggaran bawah sadar terutama untuk materi yang pernah dibaca namun tidak sadar atau memang tidak mengetahui batasan etika sendiri. Untuk mengatasi kemungkinan melanggar etika, peneliti seharusnya dengan penuh kesadaran mengupayakan (memaksa?) untuk selalu mengikuti perkembangan bidang keahliannya dan selalu menjaga komunikasi dengan sesama peneliti sebagai mitra bestari yang akan menjadi partner dalam kegiatan penelitiannya. Tepatnya saling mengingatkan dan mengumpan apa yang dibutuhkan.Fenomena plagiarisme menurut Didiek Hadjar Goenadi PhD, Ahli Peneliti Utama di Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor yang juga Ketua Umum Masyarakat Penemu Indonesia disebabkan oleh 2 hal, pertama, kurang penghargaan terhadap hasil karya orang lain sehingga perlunya pendidikan tentang hal ini sejak usia TK, kedua, lemahnya budaya menulis dan menggunakan dokumen tertulis sebagai acuan[1] inilah upaya mengembangkan budaya tulis untuk sama-sama populer dengan budaya lisan menjadi dasar untuk menngembangkan masyarakat ilmiah yang kuat.           

Perlu ditegaskan bahwa tinjauan empiris pelanggaran etika bukan bagian dari upaya menjatuhkan nama baik seseorang namun diharapkan menjadi peringatan bagi kalangan peneliti dan pemerhatinya agar fenomena plagiarisme menjadi perhatian bersama dan peringatan kepada kita semua, jangan sampai terjadi apa yang dikatakan oleh Bertand Russel, kalau kita mempelajari sejarah maka kita mengetahui bahwa manusia seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali. Kasus yang dibeberkan ternyata hanya bidang ilmu sosial, untuk kasus bidang eksakta memang relatif tidak menonjol namun bukan berarti tidak ada.Ipong S Azhar atau Syaiful S Azhar MS dari UGM yang mengambil karya ilmiah Nurhasim (Peneliti LIPI) dan diaku sebagai miliknya. Radikalisme Petani Masa Orde Baru Baru (Studi Mengenai Gerakan Radikal Petani di Kecamatan Rambipuji, Jenggawah dan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur) diduga karya plagiat dari skripsi milik Moch Nurhasim berjudul Konflik Tanah di Jenggawah (Studi Kasus Tentang Proses dan Hambatan Penyelesaian Konflik Tanah di Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur). Sedangkan Ipong untuk mendapatkan gelar Doktor (S3). Disertasinya diannggap mengabaikan etika dalam pengutipan. Hasil penelitian yang merupakan hasil penelitian orang lain tidak disebutkan secara eksplisit sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa itu merupakan hasil penelitiannnya sendiri.ternyata dari kasus ini diketahui pula bahwa Nurhasim sebenernya menutupi bahwa data dalam skripsinya adalah data sekunder milik petani Jenggawah yang didokumentasikan dengan cukup rapi oleh H Imam Masyhuri AM, salah satu wakil petani Jenggawah. Untuk kasus ini, senat Guru Besar UGM telah membatalkan gelar doktornya (Kompas, 18 Desember 2002).

Zulfan Heri-dosen di Universitas Riau-dituduh telah melakukan plagiat tesis milik Sri Nilawati untuk menyusun proposal penelitian yang diusulkan kepada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Akibat persoalan ini proyek penelitian yang berjudul “Peranan Media Massa dalam Pembangunan Budaya Melayu Menuju Visi 2020”bernilai Rp 281 juta terancam ditunda.. Penjiplakan itu dilaporkan oleh Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Msyarakat Riau (P3MR) Abdul Rahman. Menarik sekali, upaya masing-masing pihak, Zulfan melaporkan Abdul Rahman ke Kepolisian Kota Besar Pekan Baru atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran kabar bohong di media massa.

Zulfan mengatakan tidak usah menjiplak karena ia memiliki database teori yang lengkap di lembaganya, Indonesian Society for Democracy and Peace (ISDP) baik lokal mapun media nasional dan pekerjaan tentang media memang sudah lama menjadi fokusnya (persoalan subject matter bisa dikatakan tidak ada) dan ternyata Abdul Rahman menjawab bahwa itu bisa diketahui dari proses penyusunannya dan melaporkan pelanggaran ini karena beliau tidak disebut-sebut dalam penelitiannya (Kompas, 16 Januari 2004). Berarti Abdul Rahman pun tidak steril dari pelanggaran etika ini.anehKasus plagiat juga menimpa Dr M Nur MS- dosen bergelar doktor di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat (Kompas, 14 Januari 2004, garis bawah dari penulis). Laporan penelitian yang berjudul “Sejarah lokal Sumatera Barat: Perjuangan rakyat dan TNI di Cupak Kabupaten Solok 1945-1950” menjiplak skripsi Boby Hendry berjudul “Negara Cupak Masa Revolusi (1945-1949)”. Tim investigasi dari jurusan sejarah menemukan kesamaan pada tema, metode, data dan fakta, kalimat dan paragraf, catatan kaki, penggunaan sumber tertulis dan lisan, kutipan-kutipan langsung dan tidak langsung, lampiran-lampiran dan daftar pustaka. Tim investegasi sendiri terdiri dari Dr. phil Gusti Asnan, Dr. Herwandi Mhum, Drs. Wannofri Samry Mhum, Drs M Fatchurrahman dan Dra Midawati, Mhum dan merekomendasikan untuk menahan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji berkala untuk dua jenjang kepangkatan (8 tahun) dan tidak mengizinkan untuk diangkat menjadi guru besar, mencabut keanggotaan di Senat fakultas Sastra Universitas Andalas, dan tidak mengizinkan menduduki jabatan struktrual.Apa yang dikatakan oleh Dr M Nur MS, hampir sama dengan  Zulfan Heri, dianggap mencuat karena ada intrik dari bawahannya dan mengatakan pelanggaran etika sudah sering terjadi di perguruan tinggi.namun dia mengatakan laporan penelitian tersebut tidak untuk dipublikasi, hanya keperluan intern.               

 Karya ilmiah yang diikutsertakan dalam lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) baik di LIPI maupun di Departemen Pendidikan Nasional (dikenal Lomba Penelitian Ilmiah Remaja atau disingkat LPIR) ternyata hasil jiplakan alias diragukan sebagai karya ilmiah siswa. Hal itu tak lepas dari besarnya peran orang tua maupun guru dalam keinginannya mengikutsertakan anak sebagai peserta (Kompas, 21 Agustus 2001). Salah satu karya  tersebut yang ditemukan sendiri oleh penulis yakni Perbedaan Waktu Rendam pada Penyamakan Kulit Buaya (Crocodilus novaeguneae) di LKIR oleh Erlin Tri Hartanti sedangkan di LPIR oleh Sonya, lomba tersebut pada tahun 2000[2],  keduanya berasal dari SMUN 1 Merauke, Papua. Finalis yang berbeda memungkinkan karya tersebut lolos selain kegiatan yang tidak berbarengan sehingga ada kemungkinan mengirim ke dua ajang lomba tersebut yang menyebabkan itu dapat terjadi. Kejadian dimungkinkan didorong/diketahui oleh guru pembimbing baik karena ketakutan tidak menjadi finalis atau pun keberanian karena kemungkinan untuk diketahui kecil.disini memang panitia cenderung tidak melakukan dua hal penting, pertama, tidak melakukan seleksi karya yang masuk, ini bisa dilakukan dengan mengamati pergerakan bidang yang diambil. Kedua, tidak ada koordinasi atau minimal komunikasi dengan panitia lomba yang lain. Jadi kemungkinan karya yang sama dilombakan di tempat berbeda kecil kemungkinan terjadi. Kalau ini dilakukan tentu kualitas karya dan peserta meningkat dan membantu dewan juri dalam melakukan seleksi.Mahasiswa SI yang menggunakan jasa pengetikan  skripsi di perempatan Jl Matraman Raya Jakarta Pusat dan lokasi dekat kampus baik kampus negeri maupun swasta (Media Indonesia,1 April 2000). Adanya sinyalemen pelanggaran intelektual disini, dapat diperlihatkan dengan bantuan konsumen sejak dari proposal, database teori, pengumpulan dan pengolahan data. Dan bila menjelang ujian mereka akan diajukan dalam simulasi ujian yang tentu saja tenaga penguji akan menanyakan sejauh mana kemampuan si konsumen untuk memahami skripsi yang dibuat.Ada tarif untuk mendapatkan itu semua, mahasiswa S 1 sekali bimbingan harus merogoh Rp 100 ribu, untuk mahasiswa S 2 dikenai tarif Rp 150 ribu, dan anehnya disertasi untuk S 3 sebesar Rp 300 ribu. Selain pengetikan, ada juga penawaran proposal penelitan dan skripsi, di Yogyakarta, skripsi di jual seharga Rp 60 ribu untuk ilmu sosial sedangkan ilmu eksak sebesar Rp 70 ribu. Jadi mahasiswa tinggal merubh sedikit sehingga memungkinkan tidak diketahui, modus ini mirip seperti di Tasikmalaya.Ternyata ada pembuat skripsi yang pendidikannya hanya tamat SLTA namun mampu karena sering menerima jasa mengetikan skripsi dan lama kelamaan memahami metode penulisan. Ini aneh bagaimana pembimbing dan penguji mampu meloloskan skripsi. Ada lagi, pembuat skripsi  yang mencuri skripsi dari perpustakaan untuk mempelajari guna meningkatkan kemampuan membuat skripsi, ternyata ada lagi, praktik penjualan disket skripsi yang konsumennya tinggal sedikit mengganti namanya dan dosen yang menawarkan kepada mahasiswa yang dikenal dekat, berdasar sumber ini diketahui pula bahwa ilmu eksakta cenderung lebih susah dibisniskan.(Media Indonesia, 12 Juli 2004).Penanganan pelanggaran etika khususnya kasus Amir Santoso, Zulfan Heri dan Dr M Nur MS sering dikesankan sebagai ajang balas dendam terhadap musuhnya. Ini bagi saya menunjukan dua hal, pertama, tidak ada kemauan untuk saling memeriksa diri kembali secara komprehensif, kedua, belum tegaknya hukum etika karena lebih cenderung diselesaikan dengan cara-cara yang tidak tegas. Ini terlihat pada kasus tuduhan Yahya Muhaimin.Memang karakteristik plagiator lebih menyedihkan daripada pencuri yang bersifat fisik atau benda. Pencuri biasanya akan mengakui bahwa barang yang dimiliki sebenarnya merupakan milik orang lain namun plagiator sama sekali tidak mengakui bahwa karyanya merupakan hasil karya orang lain namun malahan diaku sebagai karya dirinya sendiri. 

Upaya menghindari pelanggaran etika

Pengalaman saya pribadi terlibat beberapa proyek penelitian/survai walaupun hanya dalam tingkat pelaksana lapangan namun hal ini penting untuk disampaikan sebagai upaya untuk memberi pelajaran keterkaitan kegiatan mahasiswa sebagai calon intelektual yang benar-benar dikembangkan untuk ikut terlibat dalam pengembanngan ilmu,. Banyak permintaan dari teman-teman yang saya kenal yang secara langsung mau pun tidak langsung meminta diikutkan dalam proyek penelitian yang tentu saja memang tujuan besaran uang yang diperoleh. Namun saya pikir ini sama sekali tidak konstruktif untuk memasyarakatan etika penelitian bila penelitian dikaitkan dengan proyek tapi bukan sebagai upaya mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada awal (bila penelitian kuantitatif) atau awal atau pertengahan (bila penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif). Karena yang dipikirkan bagaimana menyelesaikan penelitian dan mendapatkan uangnya bukan pada proses dan jawaban yang dibutuhkan. Kalau terakhir ini benar-benar dihayati tentu saja akan menjadi faktor penting agar etika penelitian benar-benar dijaga. Singkatnya, kalau berorientasi dengan proyek maka orientasi uang tapi kalau orientasi dengan penelitian itu sendiri maka orientasi ke jawaban atas pertanyaan penelitian.            Perlu disadarkan kepada umumnya mahasiswa, pada saat ini fokus mereka adalah melakukan pembelajaran terhadap bagaimana menguasai metode mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau dalam proyek penelitian memang diajarkan namun tidak maksimal. Jarang sekali dilibatkan dalam pembuatan instrumen penelitian karena kesempatan mereka hanyalah bagaimana mencari data di lapangan. Jadi mahasiswa terima jadi. Padahal bila kemampuan meneliti bisa berkembang kalau kita melakukan penelitian mandiri dan kalau itu terjadi maka proyek penelitian pun biasanya akan datang dengan sendirinya. Kata B.J. Habibie, untuk mengembangkan teknologi (pastilah berkaitan dengan penelitian) yang dibutuhkan adalah wawasan kredibilitas dan prediktibilitas.”kalau Anda punya uang banyak tapi tidak kredibel dan sulit diprediksi, uang Anda akan keluar ke tempat lain. Akan tetapi, dengan uang yang sedikit, tetapi Anda mempunyai satu tim yang credibel dan predictable, serta memiliki wawasan yang nyata, maka uang itu akan datang berbaris mengetuk pintu Anda” (Gatra, Agustus 2004). Kemampuan itu berkembang salah satunya dengan mencoba mengikuti perlombaan ilmiah seperti Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi atau PPRI (Pemilihan Peneliti Remaja Indonesi) LIPI.  

Memang mencoba merubah pandangan ini akhirnya tidak hanya mengajarkan etika sebagai satu hal yang terpisah dari proses penelitian. Mensosialisasikan bahwa penelitian merupakan proses yang tidak steril dengan kesalahan dan tidak dituntut persyaratan yang bersifat teknis yang merupakan produk pembelajaran. Untuk pertama, kata Medawar, penelitian tidak berkaitan dengan prestasi akademik karena yang lebih penting adalah bagaimana menghadapi kegagalan dan mencari jalan keluar setiap persoalan (Medawar,1992:9). Jadi penelitian memang tidak harus sarjana yang berarti telah mencapai prestasi akademik tertentu Sedangkan, kedua, persoalan penguasaan teknik, berkembangnya pemikiran tersebut memang karena penelitian itu sulit dan mengharuskan penguasaan bidang ilmu (subject matter) dan metode seperti kata Sudarwan Danim memang benar (2000:48). Tapi dalam dunia penelitian sendiri tidak mengharamkan kesalahan (Kompas, 5 Juli 2001), apalagi Watson dan Crick (Padmadinata, 2004) mengatakan  

debate and revision of ideas in science is a natural process. Even as scientist debate the processes of evolution, the vast majority accept that it has happened. Debate is not evidence that the theory of evolution is fatally flawed..  

Peneliti boleh salah tapi harus jujur. Salah harus diterima dengan sabar dan tekun untuk memperbaiki kesalahan tersebut karena kesalahan ditemukan agar kebenaran yang memang dicari ditemukan dan digunakan sebagai acuan. Ini lebih efektif karena membuang hal-hal salah sehingga dapat menemukan kebenaran. Kalau etika sudah dilanggar kebenaran akan bercampur dengan kesalahan. Ini sangat berbahaya.Asumsi saya adalah bila benar-benar membutuhkan jawaban penelitian dengan pelaksanaan penelitian yang berkualitas maka kemungkinan orientasi kebenaran hakiki yang dihasilkan dari proses penelitian yang melelahkan seperti telah saya jelaskan di depan agar menjadi faktor pencegah keinginan untuk melanggar etika. Jadi penghayatan dan kesadaran bahwa sesuatu diperoleh lewat perjuangan dan kerja keras merupakan faktor penting. Kasus mahasiswa di Jalan Pramuka dan maraknya penjualan jasa konsultasi merupakan jawaban atas kurangnya faktor penghayatan dan kesadaran akan masalah etika penelitian. Memang penelitian itu tidak menyenangkan, jauh dari kesan glamaour. Tapi ingat, kesenangan meneliti adalah memecahkan teka-teki kenyataan seperti diungkapkan oleh Fisikiawan Richard Feynman (Kompas, 21 Agustus 2004).Apa yang dilakukan oleh DR. Ir.Amru Hydari Nazif. M.sc, pada saat promosi salah satu doktor di Universitas Padjajaran, Bandung, bisa diadopsi oleh pembimbing untuk selalu menekankan pentingnya memperhatikan kandungan etika agar jangan sampai  ada tuduhan/dakwaan melakukan pelanggaran etika terutama dalam pengutipan dan mencantumkan sumber acuan. Sebab persoalan etika ini tampaknya dianggap tidak kalah penting dengan pemahaman metode padahal metode itu bisa dipelajari sendiri sedangkan etika selain pengetahuan luas tentang konsepnya juga bisa memberikan bagaimana tantangan untuk menerapkan. Persoalan pelanggaran sudah sedemikian parah, mengapa kita tidak mengkoreksi diri saat membimbing penelitian. Para pakar seharusnya juga meniru Andi Hakim Nasoetion (Guru Besar Statistik dan Genetika Kuantitatif IPB dan Mantan Rektor IPB), Salvador Lorea (peraih nobel biologi) adalah dosen tingkat satu di Massachusetts Institute of Technology dan Linus Pauling, Pemenang Nobel Kimia pernah mengajar kimia di tingkat satu pada universitas Berkeley (Tempo, 9 Januari 2000) untuk memberi perhatian kepada mahasiswa pada tingkat awal sebab dengan mendapat teladan (role model) maka cara berpikir pun akan tertular seperti harus bekerja keras.ini berdasar juga sosiologiwati masyarakat lapisan atas Harriet A Zuckerman (Scientific Elite: Nobel Laureates in The United States, New York:Free Press, 1977) menemukan bahwa hampir semua hadiah nobel dalam sains pada suatu ketika pernah dipandu seorang pemenang hadiah nobel, walau pun ketika itu pembimbingnya itu belum mendapatkan hadiah nobel (dikutip dari Nasoetion). Kita ketahui, dalam sejarah tidak ada peraih nobel yang sampai saat ini terjerat plagiarisme.Menurut saya ini akan lebih efektif saat dibimbingnya melakukan penelitian, ini akan lebih mudah dan terserap karena materi yang disampaikan ditekan untuk selalu diingat. Jadi ada faktor pemaksa yang sangat ideal, yakni bersumber dari diri sendiri. Kebutuhan agar yang sedang dikerjakan tidak sia-sia karena dianulir karena dianggap melanggar etika penelitian. Kata Aristoteles, apa yang harus kita pelajari, dipelajari melalui praktik. Pada saat bimbingan perlu ditawarkan pendapat Hare, pentingnya imajinasi dalam etika. Apabila universilatis berfungsi sebagai pengendali tingkah laku, manusia harus bisa membayangkan apa rasanya menjadi korban (Dave and Robinson, 1998:97)           

Faktor perencanaan penyelesaian penelitian pun harus dipertimbangkan karena dengan waktu yang sudah diperhitungkan kemungkinan untuk melakukan proses mengambil keputusan pun lebih leluasa. Sebab proses melakukan tahapan penelitian yang diikuti dengan maksimal akan mempengaruhi jalannya penelitian.ada kemungkinan terutama dalam penyelenggaran proyek penelitian yang dibiayai lembaga tenggang waktu yang diberikan ketat sehingga bila dilakukan karena ada proyek lain maka diserahkan ke orang lain. Maka bisa timbul apa yang disebut korupsi ala peneliti yakni selain mengambil uangnya namun juga mengambil kesempatan peneliti lain. Ini tentu saja menggenaskan karena penelitian identik dengan profesi yang memiliki tuntutan etika yang relatif ketat, jadi benar-benar terinternalisasi.           

Perlu dikaitkan kegiatan menjaga etika dengan pelaksanaan ibadah kepada Tuhan. Ini tidak ada maksud untuk mencampuradukan namun saya melihat kejujuran yang diajarkan oleh agama sebenarnya sangat efektif untuk membantu bahwa ini bisa diterapkan dalam dunia penelitian. Menekankan penelitian harus tetap mengedepankan kejujuran sehingga harus dengan berbagai upaya menghindari kemungkinan untuk melakukan kebohongan karena persoalan yang dihadapi pastilah bisa diselesaikan tanpa harus merugikan orang lain seperti dengan melanggar etika. Jadi ini menjawab Michael Zigmond, guru besar dalam neuro-science di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa yang perlu ialah teaching students how to recognise and defuse the intense pressure that can produce fraud (Nazif, 2003)Metode yang digunakan oleh Satya Arinanto, untuk mengetahui suatu karya benar-benar merupakan hasil penelitian dengan mengajukan pertanyaan seputar buku acuan (Tempo, 18 April 2004). Metode itu gampang diatasi dengan melakukan persiapan yang lebih panjang. Nah menghadirkan pembimbing untuk mengetahui sejauh mana melakukan bimbingan, dan perlu dilakukan kontrol dari sesama peneliti.ini penting dilakukan karena jasa konsultasi juga telah menyiapkan serangkaian simulasi yang pastinya sudah melakukan berbagai antisipasi. Walau pun metode menguji sumber diacu bisa menjadi cara yang efektif namun metode yang tidak komprehensif tidak akan menyelesaikan persoalan yang mendasar ini.Rusdi Muchtar mengusulkan pembentukan Komite Etika Ilmu Pengetahuan yang mengawasi pemberlakuan metode ilmiah pada semua jenis penelitian di Indonesia. Badan ini harus terintegrasi dengan universitas-universitas dan lembaga penelitian swasta sehingga terbangun sistem bank data penelitian di Indonesia (Kompas, 18 Desember 2002). Selain itu perlu adanya komisi etika independen agar pelanggaran etika ini diselesaikan dengan cara yang profesional bersih dari intrik pribadi yang jauh dari esensi penelitian yang mengedepankan hormat sesama dan jujur. Dan kerja dari komisi ini perlu disosialisasikan secara luas, jadi tak hanya kalangan peneliti saja namun sampai calon peneliti (terutama mahasiswa) dan masyarakat luas. Sebab persoalan pelangggaran etika sebenarnya merupakan fenomena yang lama menyeruak. 

Kesimpulan           

Pelanggaran etika disebabkan adanya kurang kesadaran akan kerja keras dan kurang menghargai hasil karya orang lain. Juga tidak adanya upaya secara sistematis untuk mengajarkan etika penelitian secara sistematis sejak usia dini seperti di Korea Selatan yang diajarkan sejak kelas III SD hingga kelas I SMA. Selanjutnya untuk siswa kelas II dan III SMA, materi etika lebih ditekankan, yang meliputi mata pelajaran etika sipil, etika dan gagasan, serta etika tradisional (Kompas, 4 September, 2004) dikalangan mahasiswa pun metode penelitian hanya menekankan metodologi padahal tidak kalah penting perlunya etika memberi titik tekan akan perlunya hormat sesama dan jujur.           

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh peneliti sendiri untuk mencegah plagiarisme selain memperluas wawasan dengan menggunakan akses informasi yang ada, dan ini memang membutuhkan biaya sehingga pemerintah harus memiliki komitmen  terhadap para peneliti agar bekerja dengan maksimal. Dan dalam penelitian perlu dipertimbangkan tahapan penelitian dengan waktu yang diperlukan.           

Etika harus selalu ditekankan dalam bimbingan penelitian terutama dalam tingkat awal untuk mahasiswa dalam menyusun skripsi lebih diperluas lagi dengan menekankan kasus pelanggaran etika penelitian dan perlunya para pakar untuk lebih meluangkan waktu untuk menjadi role model tentang bidangnya selain menjaga etika dan integritasnya. Dengan melihat bagaimana menjaga agar kualitas penelitian dapat dijaga maka tidak ada maksud untuk melarang orang mencari penghasilan dengan menawarkan jasa dan ketrampilannya membantu dalam proses melakukan penelitian namun apakah dengan mengorbankan kebenaran dan melakukan kesia-siaan untuk si pemakai jasa tersebut. Jadi Polisi dan pihak terkait harus bertindak.Untuk pihak yang berwenang disini, pihak insitusi yang paling tinggi di negara ini dan pihak kepolisian, Saya meminta maaf dalam bahasa daerah kepada sidang Raja Adat di Mandailing dengan mengucapkan “Santabi, sapulu noli santabi tu raja-raja, tarlobi-lobi tu Raja Panusunan”. Kalau hendak mengajukan pertanyaan yang dapat membawa bahaya bagi penanya. Apakah tidak malu selain bangsa kita disebut negara dengan korupsi salah satu tertinggi di Asia juga dengan plagiator di berbagai insitusi penelitian. Ini tanggungjawab kita semua lebih khusus kepada pihak yang berkaitan langsung dengan penelitian. Kita sudah menghasilkan remaja pemenang First Step Nobel Prize yang menunjukan sebenarnya kita memiliki potensi luar biasa. Jadi tindak tegas dan kalau perlu publikasikan pelanggar etika yang keterlaluan. Sudah saatnya etika penelitian beriringan dengan keinginan untuk bekerja maksimal sehingga siapa pun yang berhasil mencapai prestasi maksimal mendapatkan apa yang memang menjadi haknya. Credit  should be given where credit is due but not where it is no due.   

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Danim, Sudarwan. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta: Bumi Aksara, 2000

K. Bertens. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994

Wiradi, Gunawan. Etika Penulisan Karya Ilmiah:Beberapa Butir Prinsip Dasar. Bandung:Yayasan Akatiga, 1996

Robinson, Dave & Chris Garratt. Mengenal Etika: For Beginners. Bandung: Mizan, 1998

Medawar. Nasehat untuk Ilmuwan Muda.Terj. Andi Hakim Nasoetion. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,1992 Oei Ban Liang, Orientasi Ilmiah, makalah dalam pelatihan metode penelitian teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.  Kursus Metode Penelitian Teknologi Bandung 09-18 Desember 1985 Jilid Pertama: Kumpulan Makalah. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1986.Joesoef, Daoed. Membudayakan ilmu pengetahuan. Dalam Analisa, 1986-10. Jakarta: CSIS, 1986 

Surat kabar/internet

“Andi Hakim Nasution: Dengan Matematika Orang tak Jadi papan selancar politik”. Tempo, 9 Januari 2000“Banyak sarjana skripsinya beli di pinggir Jalan”. Media Indonesia,1 April 2000“Dosen Unri Bantah telah melakukan Plagiat”. Kompas, 16 Januari 2004“Dosen bergelar doktor jiplak skripsi mahasiswa”, Kompas, 14 Januari 200Donny Gabral Ardian,Menuju Unversitas Riset”. kompas, 21 Agustus 2004“Eureka Indonesia”. Gatra. Edisi Khusus 17 Agustus 2004. “Kasus Plagiat Amir Santoso terbongkar”, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/12/06/0003.html“Moral dan etika sejak dini”, Kompas, 4 September, 2004“berbohong tabu bagi peneliti”, kompas, 5 Juli 2001“Kado Plagiat buat Amir”, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/01/04/0010.html, diakses tanggal 1 September 2004, bahan berdasarkan laporan Ahmad Nur S. dari Majalah D&R, 27 Desember 1997“Dr Ipong Minta Izin Revisi Data”, http://www.indomedia.com/bernas/2002/26/UTAMA/26uta7.htm. diakses tanggal 1 September 2004 “Jual Beli Skripsi Makin banyak diminat”. Media Indonesia, 12 Juli 2004. Dapat diakses di http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004071200264518Ilmuwan Indonesia lakukan Plagiarisme.Kompas, 18 Desember 2002. Bahan ini juga diakses di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0212/18/iptek/52148.htm pada tanggal 1 September 2004. 

Makalah

Padmadinata, Fatima Zulfah. Integritas Ilmuwan dan Etika Ilmu Pengetahuan. Makalah untuk seminar Pemahaman Etika dan kunjungan terbimbing di Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Serpong, 2 September 2004.Nazif, Amru Hydari, Etika Ilmu Pengetahuan. Makalah untuk acara Pelatihan penulisan Ilmiah Juli 2004. Di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI.———————-. Etika Keilmuan dan Karya Tulis Ilmiah. Makalah untuk pendidikan dan Pelatihan Metodologi Penelitian untuk Karyawan dan dosen Universitas Budi Luhur, 13-23 Januari 2003.———————-. Pengembangan Hasil Penelitian: menuju pemahaman dan kemampuan baru. Bahan seminar sehari yang membahas manajemen penelitian, kegiatan dalam technological and Professional Skill Development Sector Project. Asian Development Bank, 14 September 2002 di kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. 

Ucapan terima kasih

Untuk DR. Ir. Amru Hydari Nazif, M.sc (Ketua Tim Kajian Bioetika LIPI) yang memberi banyak bahan tentang etika, berdiskusi dan memberi kesempatan penulis untuk mengikuti beberapa seminar tentang etika yang diselenggarakan oleh LIPI walau pun begitu tanggungjawab ada pada penulis sepenuhnya. 


[1] Kompas, 3 Januari 2000
About these ads

9 Tanggapan

  1. salam…
    saya tidak membaca isi dari keseluruhan pelanggaran etika yang bapak muat, namun dengan hormat kalau bapak tidak keberatan tolong kirimkan saya tips cara mengabil kutipan orang yang bai dan benar

  2. termakasih atas artikelnya, saya sangat terbantu dengannya…Thank U so much

    • sama2 pak iwan…

  3. Banyak pengetahuan baru dari artikel2 etika yang termuat.
    Terimakasih

    • sama2 pak……..sukses selalu untuk anda…

  4. Bagus! Sangat membantu.

    • Alhamdulilah. terima kasih sudah mau membaca….

  5. Duh, kok capek ya bacanya. Kayak baca makalah. Baru 1 paragraf udah males bacanya!!!hehehe…..Maaf atas kejujuran saya.

    • maaf juga, tulisan ini memang makalah yang aku presentasikan di KSM UI, n aku males untuk memperpendek. siapa tau ada orang pengin tau etika secara cukup detail. terima kasih untuk kejujurannya……:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: